[Chapter 3] Teenager Love Story


 


 

  • Tittle    : Teenager Love Story
  • Author    : Ennyhutami
  • Lenght    : Chapter
  • Cast    : Lee Taemin, Lee Ji Eun, Jo Kwangmin, and other cast
  • Rating    : Teen
  • Note    : Annyeong haseyeo, akhirnya chapter 3nya keluar *sujud syukur* mian kalo ancur gaje gakjelas. Waktu bikin ini nggak mood banget. Ini yang selalu author ingetin. No plagiat sama tolong ninggalin jejak dengan sebatas komen. Kamsahamnida

    Selamat membaca~

 

Banyak dari kita yang belum melihat kalau Lee Ji Eun dari kelas sepuluh B mendapatkan hadiah dari kelompok populer disekolah kita. Tetapi hanya beberapa anak tahu kalau kemarin Lee Taemin, ketua dari kelompok populer, habis mengerjai dia melewati perantara atau lebih tepatnya dia menyuruh orang lain agar mengolesi lem di kenop toilet ketika dia, Lee Ji Eun, hendak ke toilet. Dan kami dari redaksi majalah sekolah dan klub photografi bekerja sama untuk mendapatkan gambarnya.

    Kulihat beberapa foto diriku ketika memegang kenop pintu toilet. Semua foto ini menampilkan wajah kesalku.

    Aku membanting ke atas meja majalah ini. “Ya tuhan,” gerutuku seraya menutupi wajah dengan kedua telapak tanganku. Kini aku tak tahu harus berbuat apa. Coba lihat! Namaku dan fotoku tertera sangat jelas di halaman depan majalah.

    “Sepertinya kau mulai terkenal, Ji Eun-ah.” Kata Su Jie sambil membaca kembali majalah sekolah biadab itu. “Apa yang harus kita lakukan?” lalu ia bertanya padaku.

    Aku mengangkat bahu tak mau memikirkan ini. Lalu, “katakan pada tim redaksi majalah sekolah untuk berhenti memajang nama dan fotoku.” Ujarku. Kali ini tak akan ada masalah lagi untuk Su Jie. Kulihat ia menatapku dengan alis dinaikkan. “Waeyo?” tanyaku ketika ia menatapku terus.

    Ia menggeleng. “Aku hanya heran padamu.” Katanya. “Kau lebih mengkhawatirkan nama dan fotomu yang terpampang di majalah sekolah dibanding keselamatanmu dari kelompok berandal itu?”

    Aku mengangguk. “Apa yang harus kutakuti dari mereka?” aku justru bertanya padanya. “Kemarin saja mereka hanya mengerjaiku yang masih sanggup kutangani.”

    Kulihat Su Jie masih menatapku dengan pandangan aneh. Aku melemparkan pandangan bertanya padanya dan dia menggeleng lalu pergi. “Baiklah.” Katanya sebelum pergi. “Aku akan bicara pada ketua tim redaksi majalah.”

    Aku tersenyum lebar. “Gomawo, Su Jie-ah.”

    “Ji Eun-ah,” beberapa menit setelah Su Jie pergi, kini Jin Ri menghampiriku dengan wajah yang hampir menangis.

    Aku menatapnya khawatir. “Kau kenapa Jin Ri-ah?” tanyaku.

    Ia duduk di tempat Su Jie tadi. “Kau tahu, bukan, kalau aku menyukai Minwoo?” ia balik bertanya.

    Aku mengangguk. “Mm.” Sahutku. Aku tahu kalai dia menyukai Minwoo sejak pertama kali melihatnya disekolah ini.

    “Ternyata dia menyukaimu.” Kini air matanya sudah turun ke pipinya dari pelupuk mata.

    Aku membelalakan mataku. “Mwo?” tanyaku kaget. “Dia menyukaiku? Aniyo. Dari mana kau dengar itu? Aku yakin sekali kau salah dengar. Dia hanya menganggapku teman tidak lebih begitu pula denganku. Aku hanya menganggapnya teman. Tidak lebih.” Aku mulai mengoceh tak jelas. Aku merasa tak enak padanya.

    “Aku yakin aku tidak salah dengar. Aku dengar dar mulut Minwoo. Dia yang mengatakan itu sendiri padaku.” Shock mendengarnya lagi. Jadi… benarkah itu? Omo, kini aku harus bagaimana? “Kau yakin hanya menganggapnya teman?” tanya Jin Ri lagi.

    Aku mengangguk dengan sangat yakin. “Aku sangat yakin.” Ujarku. “Aku akan membantumu membuat Minwoo jatuh cinta padamu. Kau juga harus berusaha. Oke?” aku menyemangatinya dengan membuat huruf O dengan jariku saat mengatakan ‘oke’.

    Lalu ia tersenyum dan mengikuti jariku yang membentuk huruf O. “Gomawo, Ji Eun-ah. Kau teman terbaikku.” Katanya sambil memelukku.

    Aku yang tidak terbiasa di peluk, melepaskan diri. “Ya! Kau tahu aku tak suka dipeluk seperti itu, Jin Ri-ah.” Omelku. Tapi yang diomeli hanya tertawa sambil menjulurkan lidahnya dan pergi dari kelasku. “Hh. Kenapa anak itu? Tadi menangis sekarang seperti itu. Kadang aku tak mengerti jalan pikirannya.” Gerutuku sambil meneruskan menyalin tugas Bahasa Inggris milik Su Jie.

›››

 

“Ah, bukuku kutinggal di loker.” Ucapku begitu bel masuk setelah jam istirahat kedua terdengar.

    Sejak Taemin mengancamku—entah memang benar-benar mengancam atau apapun itu aku tak tahu—aku tak keluar kelas sama sekali kecuali jika ada guru yang menyuruhku menemuinya dikantor atau sekarang ini, mengambil bukuku di loker.

    “Kau ini benar-benar pelupa, Ji Eun-ah.” Kudengar Su Jie menyahut. Aku hanya memasang wajah-tak-berdosa padanya dan tersenyum dibuat-buat.

    Setelah sampai di depan lokerku, aku membuka kuncinya dan ada selembar kertas jatuh dari dalam loker. Aku tak ingat kalau aku menaruh kertas disini. Terakhir kali aku membuka loker ini kalau tidak salah empat hari yang lalu.

    Kupungut selembar kertas itu dan kubaca tulisannya.

    Jangan pernah mencoba kabur dariku, Ji Eun. Dimanapun kau sembunyi aku akan menemukanmu.

    Aku menelan ludah membaca tulisan yang hanya ada dua kalimat namun sukses membuatku takut. Ini surat ancaman. Tanpa ada nama si pembuat surat ini pun aku sudah tahu siapa yang menulis surat ini. Siapa lagi kalau bukan Lee Taemin? Kumasukkan surat itu kedalam saku seragamku dan mengambil buku yang kuperlukan lalu bergegas kembali ke kelas.

    Apa maksud dari surat ini? Apa dia menganggapku kabur darinya? Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?

    “Ji Eun, kau kenapa?” aku menoleh. Kulihat Su Jie menatapku khawatir. “Wajahmu pucat. Kau sakit?” aku menjawabnya hanya menggelengkan kepalaku.

    “Ya! Bae Su Jie! Bisakah kau diam?” kudengar Guru Kim berteriak dari balik mejanya.

    “Mianhae.” Jawab Su Jie. “Aku hanya khawatir dengan Ji Eun. Wajahnya terlihat pucat.”

    Aku menoleh padanya lalu pada Guru Kim. Kulihat Guru Kim menghampiri tempat dudukku. “Omo. Kau pucat sekali.” Begitu katanya ketika ia melihat wajahku. Apa sangat terlihat kalau saat ini aku sedang ketakutan? “Kau, Bae Su Jie, cepat temani dia ke ruang kesehatan.” Lanjutnya.

    “Ne.” Lalu Su Jie mengajakku untuk segera bangkit.

Aku menurut saja ketika ia membawaku keluar kelas. Padahal aku sedang tidak ingin keluar kelas. Lihat surat itu? Benar-benar menakutkan.

“Kau ini sebenarnya kenapa?” kudengar Su Jie bertanya lagi.

Aku mengambil surat yang kudapat dilokerku dari saku seragam dan menyerahkannya pada Su Jie. “Baca ini.” Kataku.

Kulihat ia menatapku penasaran dan matanya membelalak begitu melihat isi surat itu. “Ini…” ia menggantungkan kalimatnya seraya masih menatap kertas itu.

Aku mengangguk begitu tahu apa yang dipikirannya. “Mm. Itu dari Taemin.” Ucapku parau. Entah kenapa begitu menyebut namanya, tubuhku terasa tak bertenaga.

Kulihat ia menggeleng. “Ini tak bisa dibiarkan. Kau harus melaporkan ini pada Donghae Oppa atau mungkin kepala sekolah.” Katanya sambil menarik tanganku. Aku menahannya.

“Andwae.” Kataku. “Aku tidak mau Donghae Oppa tahu.”

Lalu kudengar Su Jie mendecakkan lidah. “Ya! Kalau terjadi apa-apa denganmu bagaimana? Kau tahu kalau mereka itu tak melihat jenis kelamin dari korban mereka, bukan?” aku mengangguk. “Kalau begitu ayo.” Ia menarik tanganku lagi.

Kini aku melepaskan tangannya dengan paksa. “Mianhae, Su Jie-ah. Jangan bilang pada siapapun. Terlebih lagi Donghae Oppa. Kumohon.” Pintaku. “Kau masih ingat ketika dia marah karena sekelompok orang tak dikenal menggangguku?”

Ia menatapku heran lama sekali. Lalu, “Baiklah.” Katannya. “Tapi kalau kau terluka karena mereka, aku akan bilang pada Oppamu.”

Aku mengangguk. “Mm. Lihat saja nanti.” Kataku lalu kembali berjalan menuju ruang kesehatan.

›››

 

“Kau disini?” aku menoleh kearah sumber suara. Kulihat ia ikut duduk disampingku. “Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak seperti yang lain.”

Aku menggeleng lalu mengalihkan pandangannku. “Mianhae.”

“Kau sudah baca surat itu?” tanyanya tiba-tiba.

Aku menolehnya. “Kau…”

“Itu rencana Hyunseong Hyung. Dia hanya ingin tahu seberapa berani kau. Dan bersikaplah biasa saja.” Ia memotong perkataanku. Tanpa sadar aku menghela nafas lega. Setidaknya itu bukan sungguhan. “Tapi kau jangan senang dulu.”

“Ne?” tanyaku kaget.

Kulihat ia tersenyum kecil. “Aku mendengar obrolanmu dengan Su Jie tadi.” Ujarnya. “Lebih baik kau menyuruh temanmu untuk tidak asal bicara daripada ada orang lain yang mendengar. Untung saja itu aku.”

Aku menunduk. “Kamsahamnida, Kwangmin-ssi.” Kataku. “Kumohon jangan beri tahu siapapun. Jangan libatkan Su Jie.”

Lalu kulihat ia hanya menaikkan pundaknya dan berdiri. “Aku tak bisa jamin.” Katanya sambil berlalu pergi.

Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh. Jauh sebelum aku tahu dia, kukira ia namja yang sangat dingin dan tidak peduli dengan sekitarnya. Tapi begitu aku lihat senyumnya—walaupun hanya sekilas—tapi aku merasa ada yang berubah. Hatiku terasa aneh begitu melihat senyumnya. Apa ini…

Aish! Apa yang kupikirkan tadi? Mungkin aku benar-benar gila karena sekelompok yang ditakuti di sekolah ini. “Aish!” gerutuku seraya mengacak rambutku dan berdiri untuk kembali ke kelas.

Sepanjang perjalanan dari taman ke kelas. Aku merutuk diriku dengan pikiran anehku. “Aish. Aku benar-benar sudah gila. Mana mungkin aku bisa berpikir begitu? Semua orang tahu disekolah ini tahu kalau dia adalah namja terdingin dan tersombong yang pernah ada. Jarang sekali ada orang melihat ia tersenyum.

“Ji Eun-ssi.” Aku berbalik begitu mendengar seseorang memanggilku. Taemin Sunbae? Aku menahan nafas begitu ia menghampiriku. Mau apa dia?

Langsung saja aku menunduk. “N… ne?” sahutku tergagap. Aku teringat lagi dengan kata-kata Kwangmin Sunbae. “Bersikaplah biasa saja.” Itu katanya. Lalu aku menegakkan tubuhku.

“Kau sudah baca suratnya?” tanyanya tenang seraya melempar senyum membunuh padaku.

Aku menggeleng. “Belum. Surat apa?” tanyaku berbohong. Sebenarnya aku tahu sudah membacanya dan merasa takut. Tapi untung saja Kwangmin Sunbae memberitahuku sebelum Taemin bertanya padaku.

Kulihat raut wajahnya berubah. “Kalau begitu bacalah. Dilokermu.” Ia memerintahkanku. Aku heran. Sebenarnya dia ini bodoh atau bagaimana? Kenapa menyuruhku mencari surat itu? Bukankah harusnya ini menjadi ‘kejutan’ untukku? “Kertas putih dengan tinta biru.” Tambahnya.

“Ne?” tinta warna biru? Bukankah surat yang kubaca tadi bewarna merah?

Kulihat ia mengangguk. “Mm. Pergi dan baca sekarang.” Katanya sambil berlalu pergi.

Setelah ia semakin menjauh, aku melangkahkan kakiku menuju loker dengan terburu-buru—tapi tidak berlari. Berkali-kali aku mnyenggol orang lain dan aku harus meminta maaf karena barang bawaannya jatuh. Begitu sampai didepan loker, aku membukanya dan secarik kertas jatuh. Kulihat warna tinta surat ini biru dan mataku membelalak begitu membaca isis suratnya.

“Aku tak mengerti dengan jalan pikirannya.”

TBC

17 thoughts on “[Chapter 3] Teenager Love Story

  1. taemin stlh knal jieun jd g bgtu galak..mana ada ngasih surat ancaman ngasih tw yg d ancam dlu..hehehe..tp kwangmin aneh..knp dia ngebantuin jieun..kayany dia suka sama jieun..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s