[Chapter 1] Different



  • Tittle    : Different
  • Author    : Ennyhutami
  • Lenght    : Chapter
  • Cast    : Lee Taemin, Choi Minho, Bae Su Jie (Suzy Miss A)
  • Genre    : Fantasi, Romance
  • Note    : Annyeong, aku kembali dengan chapter pertama different. Semoga semua suka ff aku yang ini ngehehe cerita ini fiktif belaka (yaiyalah*ditempong shawol*) dan murni dari pikiran sendiri walaupun hampir meleset kayak cerita Twillight saga, tapitapitapi beda kok. Diharap nggak ada yang copas ff aku dan no silent reader. Mungkin kebanyakan ditiap ff ada larangan no silent reader, tapi yang baca suka Cuma numpang baca doang sih tanpa ninggalin jejak. Jadi diharapkan untuk komen atau kritik yaa. Selamat membaca~

›››

 

Pagi ini cerah namun sayangnya tidak begitu dengan suasana hatiku yang buruk, entah kenapa suasana hatiku selalu buruk. Aku selalu suka tempat ini. Udara terasa sejuk dan tidak begitu ramai dengan suasana di kota Seoul.

 

    “Tidakkah kau merasa dingin, Su Jie-ah?”

 

    Aku yang sedang berdiri diatas balkon kamarku menoleh kearah sumber suara. Aku tersenyum seraya menggosok tanganku sendiri begitu tahu siapa yang bertanya. “Mm.” Balasku lalu kembali memandang danau di tengah-tengah lapangan yang terlihat dari kamarku. “Tapi aku suka sekali pemandangan dari sini.” Aku menambahkan.

 

    Kurasakan ia sudah berdiri disampingku. Aku menoleh dan diapun merentangkan tangannya seraya menghirup udara dalam-dalam. “Beruntungnya kau mendapatkan kamar ini.” Ujarnya.

 

    “Bukan aku yang beruntung. Tapi kau yang salah memilih kamar Onni.” Aku meralat.

 

    “Ne, ne. Aku tahu.” Ia mencibir lalu berbalik untuk keluar dari kamarku. “Ohya, Su Jie,” aku membalikkan badan ketika mendengarnya menyebut namaku. Aku menatapnya dengan tatapan bertanya. “Jangan sampai lupa sarapan sebelum pergi.” Katanya lalu menutup kamarku.

 

    “Ne, Onni.” Sahutku walaupun pintu kamar sudah ditutupnya tapi kutahu ia bisa mendengarku. Setelah kembali sendiri lagi, aku merenggangkan tanganku lagi dan menghirup udara dalam-dalam persis seperti apa yang dilakukan Jiyeon Onni tadi.

 

    Aku sangat menyayangi Jiyeon Onni meskipun kami bukan saudara kandung. Dia adalah anak angkat dari orangtuaku. Dia diangkat menjadi anak oleh mereka karena sudah tiga tahun mereka menikah dan belum juga mendapat anak. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengadopsi anak dan Jiyeon Onni-lah yang mereka pilih. Tetapi setelah sekitar dua tahun mereka mengadopsi Jiyeon Onni, ternyata Ibuku mengandungku. Tetapi walaupun begitu tak sedikit yang mengira kami memang saudara kandung karena kemiripan kami. Dan hubungan kami sangat baik seperti adik dan kakak sesungguhnya. Terlebih lagi ketika orangtua kami meninggal karena kecelakaan dua tahun lalu. Hanya dialah yang aku punya dan hanya dialah yang mendukungku ketika aku ingin bangkit kembali.

 

    “Su Jie-ah!” aku tersadar begitu Jiyeon Onni memanggilku dari lantai bawah.

 

    Aku menghapus air mataku yang hampir jatuh dari pelupuk mataku begitu memikirkan kedua orangtuaku. “Ne?” sahutku balas berteriak dan sedikit berlari keluar dari kamar menuju kebawah.

 

    Ketika aku sudah menginjakkan kakiku dianak tangga paling bawah, kulihat dia sudah terlihat cantik dengan rambutnya yang digerai sebahu dan pakaian kasualnya untuk kekampus. “Aku berangkat dulu. Jangan lupa mandi, sarapan dan mengunci pintu kalau kau mau pergi.” Katanya sebelum berangkat.

 

    “Ne, Onni.” Sahutku lalu menutup pintu ketika ia sudah menutup pagar rumah dan bergegas mandi. Hari ini Taemin, teman sekolahku, menyuruhku datang ke sekolah. Dia memintaku menjadi modelnya untuk klub yang diketuainya, photografi. Aku tidak menolak karena dia selalu baik padaku dan selalu membantuku jika aku membutuhkannya. Padahal aku baru pindah kemari sekitar enam bulan yang lalu.

 

    Setelah selesai membersihkan diri dan sarapan, aku bergegas menuju sekolah menggunakan sepeda. Aku takut terlambat kalau berjalan kaki. Lagipula jarak dari rumahku menuju sekolah tidaklah jauh.

 

    “Apa aku telat?” tanyaku ketika masuk kedalam ruangan yang didalamnya masih sebagian orang yang sudah datang.

 

    Seorang namja yang berambut cokelat keemasan menghampiriku dengan menggenggam kameranya. “Aniyo.” Katanya membalas pertanyaanku. “Justru kau datang lebih cepat, Su Jie-ah. Terima kasih sudah datang.” Lanjutnya seraya tersenyum.

 

    Aku ikut tersenyum setelah melihatnya tersenyum. Sulit rasanya mengabaikan senyum yang sangat… bagaimana aku menjelaskannya? Ah, ketika kau melihatnya tersenyum kau akan merasa bahwa kau adalah manusia yang paling beruntung melihatnya tersenyum untukmu. Begitulah yang kurasakan sekarang. Namun aku tak merasakan debaran jantung yang biasanya melihat senyum semenawan itu akan berdetak lebih cepat dari normalnya.

 

    “Su Jie-ah, pakaian yang akan kau kenakan disana. Cepatlah ganti pakaian sebelum yang lain datang.” Perintahnya menghilangkan pikiranku yang kacau.

 

    “Ah? Ne, Taemin-ssi.” Kataku lalu bergegas menuju tempat yang ditunjukknya.

›››

 

Selama tiga jam aku disuruh ini dan itu oleh beberapa orang yang memegang kamera. Untunglah mereka ramah, kalau tidak mungkin aku sudah berhenti sebelum satu jam berlangsung.

 

    “Kau lelah?” tanya Taemin ikut duduk disebelahku.

 

    Aku mengangguk masih mengelap wajahku yang sedikit basah karena keringat dengan tisu. Aku heran, dengan cuaca yang belum begitu panas aku sudah berkeringat walaupun hanya sedikit.

 

    Lalu Taemin menyodorkanku air putih dibotol. Aku mengambilnya. “Gomawo, Taemin-ssi.” Ucapku dan meminum air tersebut.

 

    “Berhentilah memanggilku seformal itu, Su Jie-ah.” Katanya.

 

    Aku berhenti meminum dan menatapnya. “Mianhae.” Sahutku. “Lalu aku harus memanggilmu apa?” tanyaku pura-pura bodoh.

 

    “Taemin-ah sudah cukup.” Kulihat ia memamerkan senyum yang bisa membuat yeoja manapun meleleh.

 

    “Ah, ne.” Sahutku lalu menegak minuman itu kembali.

 

    “Kau mau kapan-kapan menjadi modelku lagi? Hanya aku yang akan memotretmu. Tak ada yang lain.” Ia mulai membuka pembicaraan ketika kami saling diam dan hanya terdengar suara orang-orang bercanda didalam ruangan yang dipakai untuk berkumpul klub.

 

    Aku menoleh lalu memikirkan tawarannya. Sebenarnya aku tak suka difoto. Kali ini hanya untuk membalas kebaikannya padaku selama enam bulan terakhir ini. “Entahlah.” Aku membuka suara. “Sebenarnya aku tak suka difoto.” Akuku.

 

    Kulihat ia menatapku sedikit terkejut. “Benarkah?” tanyanya. “Kulihat kau merasa nyaman sekali saat difoto tadi.”

 

    “Benarkah?” aku balik bertanya dan kulihat ia mengangguk. “Entahlah, aku hanya menuruti perintah kalian saja tadi.” Ujarku.

 

    Kami kembali diam. Apa aku harus menerima tawarannya? Sebenarnya aku malas. Tapi melihat kebaikannya, aku merasa tak enak padanya kalau aku menolak.

 

    “Bagaimana?” ia menanyakan kembali.

 

    “Eh?” aku menyahut. Aku belum tahu harus menjawab apa. “Hm… baiklah. Tapi bagaimana kalau kau memotretku di lapangan didekat rumahku?” sebenarnya aku hanya malas untuk pergi jauh keluar rumah saat sekolah libur. “Disana ada danau kecil ditengah lapangan itu.” Tambahku.

 

    Kulihat ia langsung mengangguk. “Itu ide yang sangat bagus, Su Jie-ah.” Aku tersenyum mendengar pujiannya. “Baiklah, minggu depan aku kerumahmu tepat jam delapan pagi. Bagaimana?”

 

    Aku mengangguk setuju. Lalu kami ikut berkumpul dengan anggota klub di dalam ruangan. Dan aku mengganti pakaianku lagi.

›››

 

“Sepertinya kita punya tetangga baru.” Ujar Jiyeon Onni ketika kami tengah sarapan.

 

    Disini memang hanya ada dua rumah. Rumah kami dan stu rumah yang letaknya di berhadapan dengan rumahku dan sedikit jauh karena disini hanya ada rumput-rumput yang dirawat, pepohonan dan danau kecil.

 

    Aku menelan makanan ke tenggorokanku. “Benarkah?” tanyaku tak begitu tertarik seraya menegak minumku dai gelas kaca.

 

    Kulihat Jiyeon Onni mengangguk. “Tapi aku belum melihat orangnya.” Katanya seraya menyendok makanannya dipiring. “Kemarin malam aku hanya melihat mobil sedan hitam dan mobil Van yang mengangkut barang-barangnya. Kemarin juga ada Paman Shin yang membantu, jadi aku bertanya padanya. Dan katanya, ada dua orang juga yang tinggal disana dan mereka masih muda—sama seperti kita—adik dan kakak. Mereka namja. Sebaiknya kita menyambut mereka nanti malam.” Ia bercerita panjang lebar. Aku hanya menyahuti “Oh” atau “Mm” saja sambil mengangguk.

 

    Setelah selesai, Jiyeon Onni mengajakku untuk berangkat bersama menggunakan mobil. Hari ini dia akan pulang malam, jadi dia akan membawa mobil. Biasanya dia tak mau membawa mobil dengan alasan pemanasan global. Tapi sebenarnya aku tahu dia hanya mengirit bensin.

 

    “Ingat kuci rumah kalau kau mau tidur. Aku akan pulang larut malam karena Mrs. Kim menyuruhku untuk lembur membantunya.” Jiyeon Onni mengingatkan aku lagi yang entah keberapa kalinya selama diperjalanan kemari.

 

    Aku turun dan menutup pintu mobil. Kaca mobil turun dengan otomatis dan wajah cantik Jiyeon Onni terlihat. “Jangan sampai kau tertidur kalau rumah belum terkunci, Su Jie-ah. Jangan sampai lupa.” Ujarnya lagi.

 

    “Ne, Onni.” Sahutku. “Annyeong.” Kataku lalu aku mendengarnya menyahut ketika kaca mobil mulai tertutup. Aku menghela nafas. Kadang aku lupa bagaimana cerewetnya Jiyeon Onni.

 

    Aku berjalan melalui koridor sekolah dengan santai sebelum bel masuk berbunyi. Begitu terdengar bel, aku langsung berlari menuju kelas. Aku memang sengaja datang agak siang agar tidak menunggu lama disini.

 

    Begitu masuk ke kelas, aku duduk ditempatku biasa disamping Choi Jin Ri. “Kau telat lagi.” Katanya begitu aku duduk disampingnya seraya mengatur nafas yang tak beraturan akibat lari.

 

    “Sebelum guru datang ke kelas, aku belum bisa dibilang telat.” Aku menjawabnya sambil menjulurkan lidah begitu nafasku kembali normal.

 

    Kulihat ia membelalakkan mata. “Terserah apa katamu.” Ucapnya galak.

 

    “Hei, jangan seperti itu…”

 

    Ucapanku terhenti ketika Guru Kang masuk ke kelas. “Annyeong,” sapanya dengan senyum ramahnya seperti biasa. Lalu disahuti oleh murid dikelas ini. “Kelas kita mendapat murid baru lagi.” Katanya langsung. Suara bisik-bisik dari beberapa anak mulai terdengar. “Masuklah, nak.” Lalu seorang namja yang bisa kubilang sangat tampan masuk mengikuti perintah Guru Kang. Dia—dengan wajah sempurnanya yang terkesan dingin—membungkuk kecil. “Perkenalkan namamu.” Kata Guru Kang lagi padanya.

 

    Namja itu melihat Guru Kang sebentar lalu kepada kami. “Naneun Choi Minho imnida.”

TBC

15 thoughts on “[Chapter 1] Different

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s