[Chapter 2] Teenager Love Story


Tittle : Teenager love story
Author : Enny Hutami
Lenght : chapter
Main cast : IU, Suzy, Lee Taemin, Choi Minho, Jo Kwangmin
Rating :Teenager
Note : Annyeong, ini lanjutannya. maaf gaje atau aneh. Maaf juga baru ngepost lagi. Nggak ada semangat buat lanjutin nih soalnya nggak ada yang nyemangatin *nangis* ayodong komen kalo ada kekurangannya ataupun yah… lumayang bagus. Selamat membaca~
***

Tanpa sadar aku membawa kakiku kekelas. Selama berjalan, pandanganku kosong. Aku tidak sadar kalau yang membawaku ke kelas adalah Su Jie. Padahal tadi aku yang membawanya pergi.

“Apa yang baru saja kukatakan pada mereka?” kataku entah pada siapa ketika aku sudah kembali ke tempat dudukku.

“Maafkan aku, Ji Eun-ah.” Kudengar suara Su Jie meminta maaf. Aku menoleh padanya. “Karena aku, kau…”

“Bukan karenamu.” Aku memotong perkataannya seraya mencoba tersenyum semanis mungkin. “Tidak apa-apa. Kuyakin mereka lupa padaku.” Ne, aku yakin sekali mereka akan lupa. Aku yakin.

Bel tanda jam istirahat selesai terdengar. Dan Su Jie pun kembali ke tempat duduknya.

Aku akan baik-baik saja.


“Aku pulang.” Ucapku sambil menutup kembali pintu rumah. Aku berjalan gontai menuju kamarku.

Yang benar saja! Baru kejadian itu berlangsung beberapa jam, hampir seluruh sekolah sudah mengetahui itu. Jadi sekarang yang akan menjadi berita utama di majalah sekolah adalah Ji Eun, seorang siswi kelas sepuluh bersedia menjadi mainan kelompok yang kita ketahui sangat senang mengerjai murid lainya secara sukarela.

Aku membaringkan tubuhku di kasur. Tamatlah riwayatku.
Kurasakan sesuatu bergetar didalam tasku. Kucari benda yang bergetar itu di dalam tas itu dan mengambilnya. Benda kecil berwarna abu-abu itu, ponselku, masih saja terus bergetar memintaku untuk menjawab panggilan masuk. Kuangkat telfon itu tanpa melihat siapa yang menelfon. “Yoboseo?” tanyaku malas. Setelah kejadian-sok-pahlawan itu, aku malas bicara pada siapa-siapa.

“Ji Eun-ah, ini aku Minwoo.” Katanya dari sebrang telfon.

“Oh,” sahutku. “Ada apa menelfon?” tanyaku.

“Aku sudah mendengar berita itu.” Aku merubah posisiku yang sebelumnya tiduran di kasur sekarang duduk dengan kaki disilangkan. “Kau benar-benar bilang seperti itu?” tanyanya. Kutangkap nada khawatir di suaranya.

Aku mengangguk walaupun aku tahu Minwoo tidak melihatku sekarang ini. “Ne, aku harus bagaimana lagi? Su Jie dalam masalah dengan mereka karena saran konyolku. Aku tak tahu harus bagaimana lagi.” Jelasku. Entah kenapa aku merasa nyaman menceritakan masalahku padanya.

“Tapi tidak kalau kau masuk kedalam masalah itu, Ji Eun-ah.” Ujarnya. “Kau tak tahu bagaimana perlakuan Taemin Sunbae, bukan?”

“Aku tahu, aku tahu.” Selaku sebelum ia berceramah panjang lebar lagi. Aku tahu ini baik untukku, tetapi telingaku terasa panas kalau dinasehati orang lain. “Minwoo-ssi, sudah dulu ya. Donghae Oppa memanggilku. Annyeong.” Kataku bohong lalu menutup telfon. Sebenarnya Donghae Oppa masih berada di kampusnya.


Aku melangkahkan kakiku seperti biasa menuju kelas. Tak kuhiraukan orang-orang yang langsung berbisik-bisik dan menatapku sinis. Aku tahu yang mereka bicarakan. Pasti kejadian-sok-pahlawan. Aku sangat yakin itu.

“Lee Ji Eun.” Kudengar seseorang memanggilku. Aku berhenti dan berbalik. Namja dengan tatapan dingin berjalan menghampiriku dengan angkuh. “Kau Lee Ji Eun, bukan? Yeoja yang kemarin?” tanyanya ketika sudah hampir dekat.

Mau apa orang ini? Aku menatapnya curiga. “Ne.” Sahutku. “Kau salah satu dari mereka.” Itu bukan pertanyaan.

Kulihat ia tersenyum singkat. “Kwangmin.” Katanya memperkenalkan diri. “Jo Kwangmin.” Aku berbalik dan meneruskan jalanku. “Kau tahu?” kulihat kini ia sudah berjalan disampingku. “Kuakui nyalimu cukup besar untuk mengorbankan dirimu sendiri sebagai mainan kami.” Dengan entengnya dia menyebutku mainan mereka. Aku memutar bola mata. “Tapi kau tetap seorang yeoja. Minta maaf pada Taemin dan urusan selesai itu lebih baik bukan?”

Aku menggeleng kuat-kuat. “Aku tidak sudi meminta maaf padanya. Memangnya dia siapa, huh?” aku menutup mulut ketika sadar apa yang ku katakan barusan.

“Kau yakin tak mau meminta maaf padaku?” aku berhenti ketka seseorang menghalangi jalanku. “Kau sangat pemberani Lee Ji Eun.” Tambahnya. Entah ia sedang memujiku atau apa. Yang jelas aku sudah salah bicara.
Kudengar namja yang mengaku bernama Jo Kwangmin mendecakkan lidah sebelum meninggalkan aku tan Taemin. Sekarang Taemin menatapku dengan tatapan membunuh. Siapapun, tolong bantu aku keluar dari situasi ini.

Tuhan mendengar doaku. Bel masuk berbunyi dan menyelamatkanku dari Taemin Sunbae.

“Hh. Bisa gila aku lama-lama!” gerutuku seraya menarik bangku dikelas.


“Ji Eun-ah, kenapa kau begitu nekat seperti ini?” tanya Jinri ketika jam makan siang.

Aku mengangkat bahu menjawab pertanyaan Jinri. Kami kini sedang berkumpul. Aku, Su Jie, Minho Sunbae, Jinri, dan Minwoo. Minwoo dan Minho Sunbae tidak henti-hentinya memarahiku dan Su Jie karena kekonyolanku.

“Kalian tak perlu berkata seperti itu.” Ujar Minho Sunbae. “Biar aku saja yang punya urusan dengan mereka. Aku tak mau ada apa-apa pada kalian, terutama Suzy.” Minho Sunbae menyebut nama Su Jie dengan panggilannya sendiri, Suzy.

Kudengar Su Jie meminta maaf. “Ini salahku. Mianhae Oppa, Jinri, Minwoo dan kau Ji Eun. Aku sangat merasa bersalah.” Katanya meminta maaf pada kami semua.

“Aniya.” Bantahku. “Kalau aku tak menyarankan ide gila itu, mungkin sekarang kita masih baik-baik saja.” Kataku menyalahkan diri sendiri. Tapi ini memang salahku.

“Kecuali Minho Hyung.” Tambah Minwoo bergurau.

“Ah, kau benar, Minwoo.” Ucap Minho Sunbae seraya tersenyum kecut.

“Aku akan jadi makanan mereka. Bukan mainan.” Ia mengedipkan matanya padaku.

Aku mendecakkan lidah dan memutar bola mata. “Ya! Jangan bahas itu lagi!” kataku lalu bangkit.

“Kau mau kemana?” tanya Minwoo. Tanpa melihatnyapun aku tahu kalau yang bertanya itu Minwoo, aku hafal suaranya.

“Toilet.” Sahutku tanpa menoleh dan langsung melangkahkan kakiku menuju toilet. Ketika melangkahkan kakiku, tali sepatuku sebelah kiri teinjak sepatuku yang sebelahnya lagi. “Aish.” Gerutuku seraya mengikat kembali tali sepatu.

Ketika tanganku memengang kenop pintu toilet, kuasakan tanganku seperti memegang lendir yang lengket. Kuangkat tanganku. Entah itu apa, cairan bening yang lengket dilumuri di kenop pintu toilet. “Ya! Siapa yang melakukan ini?” gerutuku kesal. Siapa lagi? Pikirku. Mungkin mereka sudah mulai mengerjaiku.

Aku membuka pintu dengan kesal dan mencuci tanganku hingga bersih dari cairan bening menjijikan ini di wastafel.

“Kenapa lama sekali?” tanya Su Jie ketika aku memilih kembali ke kelas dari pada ke kantin dan ternyata Su Jie sudah kembali ke kelas.

“Mianhae, Su Jie-ah, ada yang mengerjaiku tadi.” Ujarku.

“Benarkah?” tanyanya mulai panik. Aku mengangguk. “Pasti ulah Taemin dan koloninya.” Ujarnya. “Siapa lagi kalau bukan mereka?”

Aku mengangkat bahu pasrah. Asal mereka tidak menganggu lebih dari ini aku masih bisa terima.


Sepulang sekolah, dengan sangat terpaksa aku pulang sendirian. Su Jie pergi dengan Minho Sunbae, Jinri seperti biasa dia di jemput oleh kakaknya di depan gerbang sekolah dan rumah kamipun berlawanan arah. Sedangkan Minwoo, dia ada kegiatan dengan para seniornya di klub dance.

“Oppa, kau dimana?” tanyaku langsung ketika telfonku dijawab oleh Donghae Oppa.

“Aku dirumah.” Jawabnya lalu ia bertanya. “Ada apa? Kau mau aku menjemputmu?”

“Ne!” seruku semangat. Dia memang kakak yang sangat mengerti adiknya. “Kau mau menjemputku bukan?” aku memastikan sekali lagi.

Kudengar ia tertawa dari sebrang telfon. “Baiklah, baiklah. Tunggu aku disana.” Katanya lalu menutup telfon.

Aku tersenyum senang. Walaupun aku tak suka menunggu, tetapi lebih baik aku menunggu Donghae Oppa saat ini daripada aku naik bus sendiri pulang kerumah. Benar bukan?

Mataku melihat sekeliling. Banyak orang berlalu lalang. Kulihat sepasang kekasih sedang bergandengan tangan dan kutebak namja itu melontarkan lelucon karena yeojachigu namja itu tertawa sambil memukul pelan pundak namjachigu-nya.

Aku melihatnya dengan tatapan iri. Kapan aku akan seperti mereka? Dan siapa yang akan menjadi namjachigu-ku nanti?

Kurasakan cipratan air mengenai tangan dan kakiku. “Ya!” seruku seraya mundur satu langkah dan menatap sepatuku. Ketika kulihat siapa yang mencipratkan air, satu motor besar bewarna merah berhenti tidak jauh dari genangan air di depanku. Aku tahu siapa dia. Jadi aku tak berani untuk protes lagi.

Kulihat ia membuka helm yang berwarna senada dengan motor besarnya. “Gwencanayo, Ji Eun-ssi?” tanyanya pura-pura khawatir tetapi aku tahu dari suaranya kalau ia mengejek.

Aku mengabaikannya. “Enyahlah kau dari pandanganku.” Gerutuku kesal seraya membersihkan tanganku yang basah karena cipratan air bekas hujan.

“Baiklah,” kurasa ia mendengar. “Sampai jumpa besok, Ji Eun-ssi.” Katanya lalu pergi.

Apa katanya tadi? Dia… mengancamku? Aku menelan ludah. Ketika mobil hitam Donghae Oppa berhenti didepanku, aku masuk kedalamnya cepat-cepat. “Aigo, kenapa rokmu kotor sekali?” tanya Donghae Oppa seraya menaikkan alisnya menatap rokku.

Aku mengikuti arah pandangannya. “Tidak apa-apa.” Sahutku hati-hati agar tidak kelepasan dengan kelompok berandal yang tengah mengerjaiku. “Aku saja yang tidak berhati-hati. Kau tahu kalau adikmu ini ceroboh, bukan?” tambahku mencoba bergurau.

“Araseo.” Sahutnya tertawa seraya melajukan mobil. “Sudah makan?” setelah diam beberapa menit, dia bertanya padaku.

Aku menoleh padanya. “Hm?” sahutku lalu menatap kedepan lagi. “Belum. Ayo makan diluar.” Ajakku.

“Dengan pakaian seperti itu?” tanyanya lagi. Kulihat ia menatapku dengan pandangan aneh.

Aku balik menatapnya heran. “Separah itukah penampilanku?” lalu aku bertanya. Kulihat ia mengangguk seraya fokus menyetir mobil. “Kalau begitu ke butik dulu baru kita makan. Aku pinjam uangmu.” Usulku lalu ditanggapi dengan anggukan kepala olehnya.

Hari ini adalah awal dari penderitaanku karena kelompok berandal itu. Cukup mudah dilewati pada awalnya. Tak begitu menakutkan pula mereka kalau kulihat, justru yang kulihat mereka adalan sekumpulan namja tampan yang berandal. Tapi setidaknya ketua dari mereka sopan. Entah sopan dalam artian apa. Dan aku berharap besok dan seterusnya, hidupku di sekolah akan baik-baik saja.

TBC

15 thoughts on “[Chapter 2] Teenager Love Story

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s