A Liar (part 7; end)


Annyeong, buat nebus kelamaan ngepost, jadi aku langsung post endingnya aja ya. Di part ini ada dari sudut pandangnya Minwoo trus rada panjang juga. Jangan lupa komen ya^^
Selamat membaca~
****

Minwoo POV

Setelah menjelaskan tentang hubungan kami pada Choi Jin Ri, dia memutusku. Aku hanya mengangguk setuju. Memang salahku karena tidak mengatakan perasaanku yang sebenarnya padanya. Tapi aku tahu inilah yang terbaik untuk Youngmin. Kata dokter keadaanya membaik setelah Jin Ri datang menjenguknya.

Hari ini aku berencana menjenguk Youngmin dirumah sakit setelah latihan usai. “Kwangmin? Kau mau kemana?” tanyaku pada Kwangmin ketika melihatnya dengan arah sebaliknya denganku.

“Aku mau pergi ke suatu tempat.” Jawabnya.

“Oh,’ sahutku. “Baiklah.”

“Kau mau menjenguknya?” tanyanya ketika aku ingin melangkahkan kakiku lagi.

Aku berbalik lalu mengangguk. “Mm, kau habis menjenguknya bukan? Ada siapa saja sekarang?” tanyaku. Tentu saja ia tak akan meninggalkan Youngmin sendirian disana.

“Lihat saja sendiri.” Lalu ia pergi meninggalkanku.

Dasar, batinku lalu melanjutkan langkahku menuju kamar Youngmin. “Kau tahu aku menyukaimu bukan?” aku mengurungkan niatku untuk membuka pintu. Kudengar Youngmin bertanya pada seseorang yang kutebak pasti Jin Ri karena dia bertanya ‘kau tahu aku menyukaimu?’ Aku berhenti dan mendengarkan. “Tapi kau juga tahu aku akan meninggalkanmu untuk selamanya.” Lanjutnya.

Lama sekali baru ada yang menjawab. “Jangan bicara begitu.” Suara Jin Ri terdengar. Benar bukan dugaanku? “Aku tahu kau pasti sembuh.” Kudengar ia melanjutkan.

“Kuharap.” Samar-samar suara Youngmin menyahuti lagi dan tak terdengar apa-apa lagi. Kenapa diam mereka diam? Tanyaku dalam hati.

Di satu sisi aku ingin mengintip tapi disisi lainnya menyuruhku untuk pergi dari sini. Dan di sisi yang menyuruhku untuk mengintip merekalah yang menang. Kulihat Youngmin memeluk Jin Ri tapi ia duduk di bangsalnya dan menghadap kearahku tetapi ia memejamkan matanya. Sedangkan Jin Ri juga ikut duduk di bangsal tetapi membelakangiku.

Aku menutup kembali pintu dengan pelan dan pergi meninggalkan mereka. Harusnya kau tidak mengintip mereka, bodoh!

Choi Jin Ri POV

“Aku tahu kau pasti sembuh.” Balasku menyemangatinya. Ya, aku sangat yakin itu. Batinku.

“Kuharap.” Kudengar ia bergumam. Lalu menarikku dalam pelukannya.

Aku merasa kalau air mataku membendung dipelupuk mataku. “Jangan pernah tinggalkan aku.” Bisikku. Air mata sudah tak bisa kubendung lagi dari pelupuk mataku. Kurasakan air menurun ke pipiku. Aku berusaha melepas pelukannya tapi dia tetap mempertahankan posisi ini.

“Jangan bergerak.” Katanya dan memelukku semakin erat. Lalu aku diam saja mengikuti perintahnya.

Semenjak Younmin tidak masuk sekolah dan aku putus dengan Minwoo, aku selalu sendirian. Tetapi memang kadang-kadang Minwoo menemaniku ketika dikelas tapi tidak untuk diluar jam pelajaran. Mungkin dia sudah menemukan yang baru.

Kulangkahkan kakiku menuju pintu gerbang sekolah dengan malas. Hari ini Youngmin sudah pulang kerumahnya. Berarti aku sudah tak lagi menjenguknya dirumah sakit.

Kulihat seorang laki-laki dengan rambut kecoklatannya berdiri diluar gerbang masih dengan memakai seragam sekolahnya. Beberapa sekelompok siswi menghampirinya. Bukankah itu Kwangmin? Aku menyipitkan mata agar melihat lebih jelas. Ya, itu memang dia. Lalu aku menghampirinya. “Kwangmin-ssi,” sapaku. “Kau mencari Minwoo?” tanyaku setelah ia membalas sapaanku.

“Oh, namamu Kwangmin.” Ucap siswi berambut pendek yang sedari tadi berdiri disamping Kwangmin.

Kwangmin mengabaikannya. “Ani. Aku mencarimu.” Jawabnya.

“Kau mencari gadis jelek ini?” suara yang tidak kukenal bertanya pada Kwangmin. Aku menoleh kearah sumber suara begitu pula Kwagmin dan gadis berambut pendek.

“Geum Hee?” gumam gadis berambut pendek dan ketika aku menoleh ke gadis itu ia telah menjauh. Lalu aku kembali menatap gadis ini. Ah, aku ingat gadis ini.

“Jin Ri, kenapa hidupmu beruntung sekali? Dikelilingi laki-laki tampan sedangkan wajahmu biasa saja bila dibandingkan denganku.” Ujar gadis ini. Aigo, dia sangat percaya diri. “Pertama Youngmin, kedua Minwoo, lalu dia?” ia menunjuk Kwangmin dengan dagunya. “Kwangmin-ah,” panggilnya. “Kenapa kau memilihnya? Dia ini murahan.”

“Jangan menuduhnya seperti itu, Geum Hee!” aku menoleh kebelakangku. Minwoo, berjalan menghampiri kami.

“Disini penuh drama.” Kudengar Kwangmin bergumam sambil tertawa kecil. “Geum Hee-ssi, pergilah.” Perintah Kwangmin pada Geum Hee. “Kau belum pernah melihatnya marah bukan?”

“Ah? Ne.” Sahut Geum Hee lalu pergi meninggalkan kami.

“Ya! Kenapa dia pergi begitu saja?” tanya Minwoo pada Kwangmin setelah cukup dekat dengan kami. “Jin Ri, kau tak apa?” lalu ia bertanya padaku.

Aku mengangguk. “Aku baik-baik saja.” Kenapa Kwangmin menyuruh Geum Hee pergi? Apakah separah itukah kalau Minwoo marah?

“Jaga emosimu.” Kata Kwangmin pada Minwoo lalu mengajakku pergi.

Setelah cukup jauh dari sekolah, aku bertanya padanya. “Ada apa dengan emosi Minwoo?” tanyaku penasaran.

“Tidak kenapa-kenapa.” Jawabnya. “Hanya saja emosinya sering meledak berlebihan.

Sebulan berlalu begitu saja setelah kepulangan Youngmin. Ia sudah kembali masuk sekolah seperti biasa tetapi memakai beanie hat dikepalanya untuk menutupi rambutnya yang semakin menipis karena terapi.

“Kau harus banyak istirahat, Youngmin-ah.” Kataku ketik ia berlari menghampiriku sepulang sekolah.

Ia merangkul pundakku. “Aku sehat.” Sahutnya. Aku menatap wajahnya yang semakin lama semakin pucat. Kau pembohong, Youngmin, batinku.

Kami berjalan berdampingan. Kurasa ia berhenti karena tak terdengar langkahnya lagi. Aku berbalik. Kulihat ia memegang kepalanya. “Kepalamu sakit?” tanyaku khawatir. Ia tak menjawab. “Ayo ke rumah sakit.” Ajakku sambil melingkarkan tanganku kepinggangnya dan melihat kejalan mencari taksi. Tahanlah sebentar Youngmin, batinku panik.

Astaga! Kenapa tak ada taksi yang kosong saat aku membutuhkannya?

Kurasakan tubuh Youngmin jatuh. “Youngmin!” seruku sambil membangunkannya. Dan aku meminta tolong pada orang-orang yang mulai mengerubungi kami. “Siapa saja tolong dia,”
pintaku sambil terisak tapi tak ada yang menolong.

Lalu kurasa seseorang mengangkat tubuhnya dan membawanya naik ke taksi.

Minwoo POV

Ada apa disana ramai sekali? Karena penasaran, aku melihat kesana. Kulihat Youngmin tidak sadarkan diri dan Jin Ri menangis sambil meminta bantuan tapi tak ada yang membantunya. Lalu kuhentikan taksi yang lewat dan membuka pintunya. “Tunggu sebentar.” Kataku setelah itu aku menerobos kerumunan orang-orang itu dan mengendong Youngmin masuk ke mobil. Jin Ri mengikutiku sambil menangis dan kurasa ia tak menyadari aku yang mengendong Youngmin. “Rumah sakit.” Kataku pada supir setelah duduk di depan.

“Youngmin-ah, bertahanlah demi aku.” Isak Jin Ri lagi. Disepanjang perjalanan ia terus menangis dan memanggil-manggil nama Youngmin.

Sesampainya dirumah sakit, beberapa orang membawa Youngmin yang tidak sadarkan diri menuju ruang unit gawat darurat. Aku dan Jin Ri tak diperbolehkan masuk. Lalu aku menelfon keluarga Youngmin. setelah itu aku duduk disebelah Jin Ri yang masih menangis. “Sudahlah, jangan menangis lagi.” Aku menghapus air matanya dengan telapak tangan.

“Ini salahku.” Ujarnya terisak. “Harusnya aku menolak ketika ia mengajak pergi. Aku takut ia kenapa-kenapa.” Lalu ia memelukku.

Aku ragu untuk menaruh tanganku dipundaknya. “Ini bukan salahmu.” Kataku menenangkannya.

Lalu aku mengelus pundaknya. “Ini bukan salahmu.” Ulangku.

Beberapa menit kemudian orang-orang datang dengan wajah khawatir. Dan tepat sekali dokter keluar. “Bagaimana keadaannya?” tanya paman langsung.

“Sudah tak ada harapan lagi.” Jawab dokter itu. Kudengar tangisan Jin Ri semakin keras. “Dia kritis.” Tambahnya.

Kulihat Kwangmin menghampiriku. Dan duduk disebelahku. “Kurasa ini waktunya.” Gumamnya pelan.

“Apa maksudmu?” tanyaku bingung.

Kudengar ia menghela nafas. “Aku bisa merasakannya.”

Aku tidak mengerti apa yang dibicarakannya. Lalu seorang perawat keluar dan memanggil dokter itu. Dokter itu masuk kembali dan menutup pintunya. Kini Bibi dan Chaerin Noona mulai menangis.

Setengah jam kemudian dokter keluar lagi dan menggeleng pasrah. “Maafkan kami.” Katanya.

Kini kulihat Kwangmin mulai meneteskan air matanya. “Andwae! Tak mungkin. Kau pasti bohong!” seru Chaerin Noona.

“Sekali lagi kami minta maaf.” Lalu ia pergi meninggalkan kami.

Kurasakan tubuh Jin Ri melemas. “Jin Ri?” panggilku. Dia tak sadarkan diri dipelukanku.

Jin Ri POV

“Sekali lagi kami minta maaf.” Aku mendengar dokter itu meminta maaf lagi. Tiba-tiba pandangannku kabur dan semua gelap.

Aku melihat Youngmin tertawa sangat ringan seperti ia tak mempunyai beban apapun. “Aku akan merindukanmu, Jin Ri-ya.” Lalu ia menghilang.

Aku membuka mataku. Youngmin… kenapa kau meninggalkanku? “Dimana Youngmin?” tanyaku ketika pertama kali membuka mataku. Bau obat langsung menyerbu hidungku. Tak ada yang menjawab pertanyaanku. “Dimana Youngmin?!” teriakku.

“Jin Ri-ah, Youngmin sudah tiada.”

“Andwae! Itu hanya mimpi.” Kataku tak mempercayainya. “Jangan pernah menipuku, Onni.” Ancamku.

Kulihat ia menghampiriku. “Aniyo. Aku tidak menipumu.” Sahutnya tenang. “Ikhlaskan dia, Jin Ri.” Kurasa air mataku turun lagi.

“Annyeong haseyeo,” kudengar seseorang menyapa dan deritan pintu terbuka juga terdengar.

“Oh, Minwoo,” kudengar Onni menyapa orang yang baru masuk ke kamar. Aku mengintip dari balik badan Onni. Aku baru ingat kalau aku memeluknya.

“Kau sudah sadar?” ia memberiku satu buket bunga.

Aku menerimanya. “Gomawo, Minwoo-ah,” sahutku. Kini aku ingat, kurasa air mataku turun lagi setelah ingat kejadian… kemarin. Aku menoleh keluar jendela. “Berapa lama aku tak sadarkan diri?” tanyaku entah pada siapa.

“Semalaman.” Jawab Onni.

“Ugh.” Desahku. “Apa Youngmin sudah dimakamkan?” suaraku terdengar parau ditelingaku sendiri.

Minwoo mengangguk. “Aku baru saja pulang dari pemakaman.”

“Aku mau kesana.” Kataku lalu bangkit berdiri. Lalu tubuhku limbung kedepan dan Minwoo menangkapku. Kepalaku terasa pusing.

“Istirahatlah dulu.”

Sesuai janji, Minwoo menemaniku ke pemakaman dimana Youngmin dimakamkan. “Youngmin,” panggilku pelan sambil menaruh bunga diatas makamnya. ‘Aku akan merindukanmu, Jin Ri-ya’ kata-kata dimimpi itu terngiang lagi dikepalaku. Aku akan selalu merindukanmu, Youngmin-ah, batinku.

“Selesai?” tanya Minwoo ketika aku berdiri. Aku mengangguk. Lalu mengikutinya menuju mobil yang ia bawa. Sepanjang perjalanan pulang, kami hanya diam dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba ia memberhentikan mobil. “Aku mau bicara denganmu.”

“Ada apa?” tanyaku bingung.

“Jin Ri, apakah kau…” ia menggantukan pernyataannya. Kulihat ia menghela nafas lagi. “Aku mau minta maaf karena tak memberitahu perasaanku yang sebenarnya padamu.” Ia melenceng dari kalimat awal. “Aku mau mengatakan yng sebenarnya tetapi kulihat Youngmin sangat bahagia saat memelukmu… jadi aku tak mau merusaknya.”

Aku menatapnya bingung. “Aku tidak mengerti.” Ujarku. “Bicara yang benar, Minwoo.”

Dia menyukaimu.

Seseorang berbisik ditelingaku. Aku menoleh ke kanan, kiri dan belakang. Tak ada siapa-siapa lagi dimobil kecuali aku dan Minwoo.

“Ada apa?” tanya Minwoo penasaran.

“Ada yang membisikkanku kalau kau… menyukaiku?” pernyataanku menjadi pertanyaan.

Ya, dia menyayangimu seperti aku menyayangimu.

Lagi. Kini aku kenal suara itu. Youngmin. tapi tak mungkin. Dia sudah tiada.

Aku selalu ada dihatimu.

Aku tertegun lalu tersenyum. Kulihat Minwoo menatapku heran. “Apa benar kau menyukaiku?” tanyaku penasaran padanya.

“Eh?” sahutnya. “Kau pintar sekali menebak, Jin Ri-ya.” Katanya sambil tersenyum.

“Lalu kenapa kau bilang kau dipaksa Youngmin untuk menjadi kekasihku?” mataku menyipit.

“Ia memintaku agar menjagamu. Lalu semakin lama aku makin menyukaimu. Bahkan menyayangimu.” Jelasnya. Lalu kami saling diam. “Kau mau menjadi kekasihku lagi?” tanyanya tiba-tiba.

Apa ini tak terlalu cepat? Baru saja Youngmin meninggal. Aku tidak mau dia bersedih jika mengetahui ini.

Terima saja. Aku sangat senang kalau kau juga senang.

Apakah boleh begitu saja? Tanyaku dalam hati. Kudengar seseorang menyahuti. “Baiklah, aku mau.”

Aku lega sekarang ada yang menjaga gadis kecilku. Jangan pernah lupakan aku Jin Ri-ya, aku pergi.

Hatiku melompat-lompat. Kini aku tahu Youngmin tidak benar-benar meninggalkanku. Ia selalu ada dalam hatiku tan tak akan pernah pergi.

Kulihat Minwoo tersenyum lebar. “Gomawo Youngmin-ah.” Kudengar ia bergumam. “Ayo kita jalan-jalan.”

END

10 thoughts on “A Liar (part 7; end)

  1. Youngmin…. Apa jdnya klo dia nyatain perasaannya jauh2 hari sebelum detik2 terakhirnya??? Haah…. bahkan kebohongan ini membuat jinri lebih sedih lg tp cepet bgt move on-nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s