A Liar (par 6)


Annyeong haseyeo, akhirnya selesai juga ff yang ini. Tapi endingnya aku post kalo udah banyak yang liat aja ya.
Selamat membaca~
****

“Jin Ri-ya, aku mau mengatakan sesuatu.” Katanya tiba-tiba.

Aku menoleh. “Mm?” tanyaku.

“Aku…” ia menggantungkan kalimatnya. “Tapi kumohon kau mendengarkan sampai aku selesai.”
Aku menatapnya curiga. Apa mungkin ia meminta putus denganku? Aku menelan ludah dengan berat. Aku tidak mau berpisah dengannya. Jangan menambah kesedihanku Miwoo-ya, batinku. Aku mengangguk begitu melihat ia menatapku dengan wajah bersalah dan menungguku mengeluarkan jawaban.

Kulihat ia menghela nafas baru berbicara. “Aku… maksudku Youngmin. Dia memintaku agar aku menjadi kekasihmu.”

Badanku terasa lemas seketika. Perkiraaku memang tidak terjadi, tetapi pada kenyataannya lebih parah. Lebih menyakitkan. Ia bahkan mau menjadi kekasihku karena Youngmin yang meminta dan ia sama sekali tak menyukaiku. Pantas saja selama ini ia tak pernah mengatakan ‘saranghae’ padaku. Aku ini memang bodoh. Lebih mementingkan orang yang tidak menyukaiku dan mengabaikan sahabatku sediri yang diam-diam menyayangiku. Kenapa aku tak menyadarinya sejak awal? Dan kenapa sikap Minwoo begitu baik padaku walaupun ia tak menyukaiku? Apa ia bersikap baik pada semua orang? “Jadi kau hanya suruhannya? Dan sekarang kau ingin putus?” entah kenapa pertanyaan itu mengalir begitu saja dari bibirku.

“Aniyo. Bukan seperti itu.” Bantahnya. “Sudah kubilang dengarkan aku sampai selesai.”

“Baiklah.” Sahutku pasrah. “Lanjutkan.” Aku sudah benar-benar tidak bisa apa-apa. Aku tahu hubungan kami akan berakhir. Tapi aku tak mengira kalau akan berakhir seperti ini. Bahkan Youngmin pun yang kukira membenci Minwoo pada awalnya, ternyata ia yang menjadi dalangnya. Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Begitu Youngmin sembuh seperti semula, aku akan menghajarnya. Dan surat itu, mungkin saja ia akan menjalani pengobatan diluar negeri dan akan kembali lagi. Ini semua tipuan. Pembohong. Dia pembohong. Apa ada orang lain yang bisa kupercaya? Youngmin dan Minwoo adalah pembohong terutama Youngmin.

“Kau mendengarku?” pertanyaan Minwoo membuyarkan pikiranku yang sedang kacau.

“Ne.” Sahutku berbohong. Aku sudah tidak tahan dengan kebohongannya. “Aku mau pulang.” Aku bergegas berdiri.

Ia menahanku. “Kau tidak mendengarku.” Itu bukan pertanyaan.

Aku memang tidak mendengarkan. Untuk apa aku mendengar lebih banyak lagi kalau hatiku merasa sakit setelah mendengarnya? Makiku dalam hati. “Aniyo. Aku mendengar kau bicara.” Bantahku. “Aku lelah, ingin segera pulang kerumah.” Lalu aku melepaskan genggaman tangannya dan pergi meninggalkannya.

“Kau tahu apa itu Medulloblasma?” aku mendengarnya bertanya. Aku tetap berjalan mengabaikannya dan kursakan ia mengikutiku dibelakang. “Medulloblasma, kamgker otak langka dan sangat ganas. Itulah yang diderita Youngmin sekarang.”

Aku berhenti. Tetap pada posisiku dan memandang nanar kedepan. Kangker… otak? Bagaimana bisa? Kenapa ia tak memberitahuku sebelumnya? Kenapa ia merahasiakan ini? Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul didalam otakku saat ini. Aku tak pernah mendengar penyakit itu. Yang kutahu hanyalah kangker otak. Ya Tuhan.

Pandanganku kabur oleh air mata yang turun dari mataku. Kulihat samar-samar Minwoo didepanku lalu ia memelukku. “Aku tahu kau sebenarnya menyukainya.” Kata-kata itulah yang keluar dari mulutnya ketika ia memelukku.

Aku tak peduli dengan perkataannya. Yang keluar dari bibirku hanyalah pertanyaan-pertanyaan yang terlintas dibenakku saja. “Benarkah? Kangker otak itu? Sejak kapan? Kenapa ia tak memberitahuku?” tanyaku terisak didalam pelukannya. Entah kenapa aku merasa nyaman berada dipelukannya.

“Nanti saja kujelaskan semuanya.” Balasnya menjawab pertanyaanku. “Harusnya kau mendengarku tadi.” Keluhnya.

“Mianhae,” sahutku.

“Tak apa.” Balasnya sambil melepas pelukannya. Lalu tersenyum bak malaikat sambil mengapus air mata di wajahku dengan telapak tangannya. Hatiku merasa hangat dan sejenak melupakan kemarahanku padanya dan pada Youngmin. “Ayo masuk, diluar dingin.” Ajaknya. Dan aku hanya mengangguk setuju.

“Kau yakin akan pulang?” tanyaku sekali lagi pada Youngmin ketika mengajaknya berkeliling rumah sakit dengan mendorongnya dikursi roda.

Satu minggu berlalu. Aku dan Minwoo resmi berpisah. Sebenarnya aku tak mau tapi itu harus kulakukan agar Minwoo juga merasa bebas dan Minwoo hanya mengangguk setuju. Toh dia memang tak benar-benar menginginkanku untuk menjadi kekasihnya. Setelah itu, aku selalu menjenguknya sepulang sekolah lalu Kwangmin, kembaran Youngmin, memilih untuk tinggal kembali di Seoul. Dan menurut dokter keadaannya membaik jadi dia memutuskan untuk pulang kerumah.

“Ne, Jin Ri.” Sahutnya. “Kau tahu sebosan apa aku disini? Terlebih lagi pagi hari.” Katanya. “Kau, Minwoo dan Kwangmin sekolah sedangkan Chaerin Noona kuliah.”

Aku tersenyum mengejek. “Bukankah kau terbiasa sendiri?” sindirku.

Kulihat ia membalikkan badannya menatapku. “Aku seperti itu karenamu.”

“Aku?” tanyaku bingung. “Ya! Bukankah itu memang sikapmu?”

“Aniyo.” Ia membalikkan badan kearahku lagi dan menjulurkan lidahnya. Belakangan ini sikapnya seperti anak kecil. Tapi entah kenapa aku lebih suka ia seperti itu. Tidak berada dibalik topeng yang dingin, cuek dan angkuh. “Ayo ke taman.” Ajaknya.

Aku melihat dibalik jendela yang kami lewati. “Turun salju diluar.” Kataku. “Kembali kekamar saja. Aku lelah membawamu berkeliling.”

Kulihat pundaknya menurun dan kudengar ia bergumam. “Kenapa salju turun sekarang?” aku mengabaikannya dan mendorong kursi roda kembali ke kamar rumah sakit yang ditempati Youngmin. “Terima kasih mau menemaniku, Jin Ri-ya.” Katanya tiba-tiba setelah ia membaringkan tubuhnya di bangsal.

Aku tersenyum kecil lalu menggeleng. “Aniyo. Harusnya aku yang berterima kasih padamu karena selalu melindungiku dan…” aku menggantungkan kalimatku. Aku malu jika mengatakan ini. Kulihat ia menyipikan matanya. “Dan terima kasih sudah menyayangiku lebih dari sahabat.” Lanjutku lalu menunduk malu.

“Aku tahu kau juga punya perasaan padaku. Tapi kau tak mau mengaku.” Aku mendongakkan kepalaku dan dulihat ia melempar senyum yang paling manis yang kulihat dari wajahnya.

Aish. Kenapa ia tersenyum seperti itu? “A… Aniyo.” Elakku gugup.

“Kalau tidak, mengapa wajahmu memerah seperti itu?”

Aku menundukkan kepala dalam-dalam karena tak mau ia melihat wajahku yang memerah seperti ini. Bisa-bisa ia akan salah mengartikan ini. Padahal aku juga tak tahu bagaimana perasaanku padanya.

“Annyeong,” aku mendongakkan kepala dan menoleh kearah sumber suara dibalik pintu. Kulihat Kwangmin masuk ke kamar ini masih dengan mengunakan seragam sekolahnya. Untunglah dia datang, batinku.

“Annyeong Kwangmin,” sapaku basa-basi mengalihkan pembicaraan. Kulihat sekilas Youngmin menaikkan alisnya.

“Apa aku mengganggu kalian?” tanya Kwangmin.

“Ya.” “Tidak.” Sahutku berbarengan dengan Youngmin. Kami saling berpandangan.

“Oh,” gumam Kwangmin. “Baiklah, aku tunggu diluar.”

“Andwae.” Seruku dan kulihat Kwangmin menatapku bingung. Lalu aku cepat-cepat menambahkan. “Kau disini saja, Kwangmin-ah.” Kataku. “Aku ada urusan jadi harus pulang sekarang.”

“Urusan apa?” tanya Youngmin padaku.

Aku menoleh padanya. “Ne? Oh,” aku memutar otakku mencari alasan yang masuk akal.

“Disini saja. Aku masih rindu padamu.” Ia menarik tanganku dan menggenggamnya. Aku hanya diam saja.

“Baiklah aku pergi dulu.” Kata Kwangmin lalu keluar dari kamar ini.

“Kau tahu aku menyukaimu bukan?” tanya Youngmin setelah Kwangmin menutup pintu masih dengan menggenggam tanganku. “Tapi kau juga tahu aku akan meninggalkanmu?”

Aku mengangguk tanpa menoleh padanya. “Jangan bicara begitu.” Jawabku. “Aku tahu kau pasti sembuh.”

TBC

5 thoughts on “A Liar (par 6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s