A Liar (part 5)


Annyeong haseyeo, maaf lama nge post part 5-nya. Ada Ujian blok kedua disekolah jadi fokus kesitu dulu biar tetep bertahan di10besar *pamer* ngehehehe
Kalo ada yang mau request tentang cerita sama tokohnya, bisa mention ke acc twitter @ennyhtm yaa
Jangan lupa komen ya^^
Selamat membaca~
****

“Meninggal? Lalu, wanita tengah baya yang sering kulihat siapa?” Kenapa Youngmin tak menceritakan hal sepenting itu?

“Nanti saja kujelaskan.” Katanya ketika ponselnya berbunyi. “Ne, Chaerin Noona?” Pasti kakak perempuan Youngmin yang menelfon. “Mwo? Lalu bagaimana keadaannya?… Ne, ne, aku kesana sekarang.” Lalu ia memasukkan ponselnya kesaku celana.

“Ada apa?” Tanyaku ketika melihatnya panik.

“Ikut aku,” ia menarik tanganku sambil berlari lalu memberhentikan taxi dan naik ke taxi itu.

“Ada apa sebenarnya? Kau belum menjelaskan isi surat itu.” Tanyaku pada Minwoo yang sekarang sibuk dengan ponselnya.

“Itu nanti saja.” Sahutnya. “Youngmin kritis.” Bagaikan petir menyambarku saat itu juga. Tiba-tiba perasaanku tidak enak.

“Dia kenapa? Kenapa bisa sekarat?”

“Nanti saja kuceritakan”. Lalu setelah sampai didepan rumah sakit, ia membayar ongkos taxi lalu keluar. Aku mengikutinya keluar dan ikut berlari. “Dia dimana?” Tanya Minwoo ketika sampai didepan ruangan rumah sakit.

Bau obat sangat menyengat disini. Aku benci rumah sakit. Kulihat ada beberapa orang disini. Wanita paruh baya sedang menangis dipundak laki-laki paruh baya yang kutebak adalah suaminya. Dengan wanita muda yang membukakan pintu gerbang dirumah Youngmin. Dan ada satu laki-laki yang mirip sekali dengan Youngmin, hanya saja rambutnya lebih pendek yang membuatnya terlihat lebih dewasa dan rambutnya yang berwarna kecoklatan. “Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi pada Youngmin?” Tanyaku putus asa melihat wajah sedih mereka.

“Kau Choi Jin Ri?” Tanya laki-laki paruh baya tersebut padaku.

Aku membungkuk. “Annyeong, paman.”

“Dia selalu memanggil namamu ketika tidur. Tapi dia melarang kami memberitahumu.” Lanjut Chaerin Onni.

“Eh?” Gumamku. “Memberitahu apa?” Tanyaku.

“Surat itu bagaimana?” Lalu ia bertanya pada Minwoo.

Kulihat Minwoo menaikkan pundaknya. “Dia tidak memberitahumu kalau ia mengidap penyakit langka?”

“Penyakit apa?” Aku membukam mulutku. Rasanya tulang ditubuhku melunak. “Dia hanya bilang kalau ia akan pindah keluar negeri dan tak akan kembali ke Korea.” Kurasa airmataku menggenang dipelupuk mata. “Dia akan baik-baik saja, bukan?”

Kembaran Youngmin yang sedari tadi berdiri sekarang duduk dengan wajah pucatnya. “Kau kenapa?” Tanya Minwoo.”

Ia menunduk. “Aku tidak tahu. Perasaanku tak enak.” Katanya.

Kudengar isakan wanita paruh baya tersebut semakin keras. Lalu suara pintu terbuka berderit dan dokter keluar dari ruangan tersebut. “Apakah ada yang bernama Choi Jin Ri dan No Minwoo?” Tanyanya. Aku dan Minwoo saling bertatapan lalu mengangkat tangan. “Dia memanggil kalian.”

“Dia sudah sadar dok?” Tanya paman sambil berdiri.

“Sudah.” Lalu dokter itu menyuruhku dan Minwoo masuk kedalam tanpa ia mengikuti kami.

Kulihat disamping tempat tidur rumah sakit ada beberapa alat-alat kedokteran dengan Youngmin diatas tempat tidur tersebut dan ada alat pernapasan yang menutupi hidung dan mulutnya. Ia terlihat sangat pucat. “Youngmin-ah,” panggilku. Kulihat ia membuka matanya perlahan lalu ketika melihatku ia tersenyum. “Kau… Kenapa sembunyikan hal sepenting ini dariku?” Tanyaku gemetar.

Kudengar ia membisikan sesuatu. “Jangan dipaksakan,” kudengar Minwoo angkat bicara. “Lebih baik kau istirahat saja. Kami akan keluar.” Ia menggandeng tanganku.

Kudengar Youngmin mengatakan sesuatu. Aku berbalik dan mendekatinya. “Istirahatlah dulu,” saranku sambil mengenggam tangannya. Kulihat ia tersenyum, “bicaralah nanti kalau kau sudah jauh lebih kuat.” Kayaku lagi lalu aku pergi meninggalkan ruangan tersebut. Keluar dari ruangan tersebut, aku mengikuti Minwoo entah kemana ia mau pergi. “Kau berhutan penjelasan padaku.” Aku mengingatkannya sambil mengejarnya.

Ia berhenti dan berbalik lalu menggenggam pergelangan tanganku. Ia melangkah menuju taman rumah sakit kurasa. Sesampainya di taman rumah sakit, aku duduk di bangku panjang yang disediakan pihak rumah sakit. Aku diam menunggunya mulai menjelaskan.

“Aku tak tahu apa nama penyakitnya.” Ia memulai. “Yang aku tahu, ia mengidap penyakit langka yang diturunkan oleh ibunya.”

Aku begitu bodoh sampai tak tahu ini semua. Sahabat macam apa kau? “Sejak kapan?” Tanyaku dengan suara pelan. Ditelingaku pun terdengar seperti bisikan.

“Sekitar dua tahun yang lalu.” Sudah begitu lama? “Tapi aku baru tahu beberapa bulan yang lalu.” Tambahnya.

“Bisakah kau melanjutkan cerita yang tadi?” Tanyaku. “Cerita yang terpotong karena kakak perempuan Youngmin menelfonmu.”

“Oh,” gumamnya lalu berpikir. “Aku sampai dimana?” Tanyanya. Sebelum ku menjawab ia melanjutkan. “Ibu kandungnya meninggal saat mereka masih kecil.

“Kwangmin memilih tinggal di Tokyo bersama pamannya dan Youngmin memilih tetap tinggal di Seoul.”

“Lanjutkan ketika kau bertanya pada kembarannya.” Selaku. Aku benar-benar ingin tahu apa yang terjadi selama ini.

“Ah, dugaanku benar soal kembarannya tahu apa yang terjadi padanya. Dan dia bilang, seseorang yang Youngmin sukai dan sedang dekat padanya menyukaiku. Tetapi ia tak tahu siapa gadis itu.

“Lalu aku menyelidiki sendiri siapa yang sedang dekat dengannya. Dan orang itu kau.”

“Bagaimana kau tahu itu aku?” Tanyaku.

“Itu mudah.” Jawab Minwoo lalu melanjutkan. “Youngmin bukan orang yang mudah dekat dengan orang lain kecuali dia benar-benar merasa nyaman dengan orang itu. Setelah tahu siapa gadis itu, aku langsung bicara dengannya saat ada acara keluarga yang diadakan sebulan sekali dirumahnya. Ia mengakui itu lalu bercerita padaku.

“Dua bulan kemudian, Kwangmin berkunjung ke Seoul. Kukira Kwangmin hanya berlibur. Tetapi ia kemari bukan untuk berlibur melainkan menjenguk kembarannya yang sedang menjalankan operasi. Aku tak tahu kalau ternyata Youngmin menderita penyakit yang jarang sekali diderita orang.”

Aku benar-benar terhanyut dalam cerita Minwoo tentang Youngmin. Jadi selama aku berteman dengannya, aku hanya mengetahui sedikit saja tentangnya. Youngmin, kau bodoh karena merahasiakan ini dariku. Makiku dalam hati.

Setelah bercerita, Minwoo terdiam membiarkanku mencerna ceritanya. Lalu, “JinRi-ya, aku mau mengatakan sesuatu,” katanya tiba-tiba.

“Mm?” Tanyaku.

“Sebenarnya aku…”

TBC

6 thoughts on “A Liar (part 5)

  1. Aaaaaaa enny,, ceritanya sedihhh๐Ÿ˜ฅ jd pgn nangis.
    Part beriikutnya ditunggu,oiya part yg ini terlalu pendek ny. Part berikutnya panjangin lg ya
    Ny, endingnya dibkn happy yaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s