A Liar (part 4)


Annyeong, ini part keenpatnya. Maaf ya kalo aneh atau jelek. Seenggaknya ini murni karanganku sendiri. Tolong kasih komen ya, butuh banget ide buat bikin ff baru.
Selamat membaca~
****

Aku benar-benar merasa ‘sendiri’ sekarang. Sebelumnya aku tidak merasa seperti ini walaupun sering kali aku menyendiri. Tapi ini berbeda. Ada rasa tak nyaman menyelimuti diriku. Apa artinya ini?
***

Sepulang sekolah, aku tidak langsung pulang kerumah melainkan mampir sebentar ke cafe yang pernah ditunjukan Minwoo padaku. Begitu memasuki cafe tersebut, aku menghampiri tempat di sudut ruangan. Lalu pelayan menanyaiku apa yang ingin kupesan setelah itu ia meninggalkanku sendiri. Aku menyenderkan punggungku pada kursi, tiba-tiba ponselku berdering. Kulihat dilayarnya menampilkan bahwa Minwoo menelfon. “Minwoo-ah,” kataku setelah mengankat telfon.

Kudengar ia menyahut. “Ne, kau dimana sekarang?” Tanyanya.

“Aku di cafe yang waktu itu,” jawabku.

“Baiklah. Tunggu disana, jangan pergi kemana-mana.”

Aku tertawa kecil. “Ne, ne,” lalu menutup telfon.

Sekitar lima belas menit, Minwoo sudah sampai. Begitu ia masuk keruangan ini, entah mengapa aku merasa nyaman tak seperti tadi. Ia mengedarkan pandangannya kesudut-sudut ruangan. Aku melambaikan tangan untuk menarik perhatiannya. Ia menghampiriku. “Maaf membuatmu lama menunggu.” Katanya seraya duduk didepanku.

“Tidak apa-apa.” Sahutku sambil meminum minumanku yang diantarkan sebelum Minwoo sampai. “Kau bilang mau menjelaskan.” Kataku langsung.

“Menjelaskan apa?” Tanyanya. Aku diam. “Oh, itu… Bukan apa-apa.” Ujarnya sambil meminum minumanku.

Aku tahu ia bohong. Pasti ada sesuatu yang terjadi. ****

Sudah satu bulan terlewat begitu saja. Tak terasa aku sudah bersama No Minwoo lebih dari sebulan. Dan hubunganku dengan Youngmin sudah kembali seperti biasa walaupun kadang ia tak masuk sekolah. Dan sudah hampir dua minggu ia tak masuk sekolah. Aku tak tahu apa penyebabnya.

Minwoo menyodorkan amplop putih kepadaku ketika kami berdua sedang dihalaman sekolah melihat sekelompok orang bermain bola basket.

“Apa ini?” Tanyaku sambil mengambil surat yang ia sodorkan. “Darimu?” Tanyaku lagi ketika tahu ini adalah sebuah surat.

“Bukan.” Sahutnya datar tanpa menatapku. “Baca saja.” Belakangan ini ia agak aneh. Ia selalu menyendiri dan berdiam diri. Padahal biasanya ia cerewet sekali.

Ketika kulihat tulisan di surat ini, aku tahu siapa yang menulis surat ini. Tentu saja Youngmin. Jo Youngmin. Apa Minwoo sudah membaca surat ini?

‘Apa kabar, Choi Jin Ri? Sudah lama aku tak melihatmu. Ah, tidak. Aku saja yang berlebihan. Kita tak bertemu hanya dua minggu bukan? Bukan waktu yang lama. Jin Ri, aku mau memberitahumu sesuatu. Tapi kau harus berjanji padaku setelah kuberitahu apa yang kumau katakan padamu, kau jangan marah ataupun sampai membenciku. Aku tidak mau kau membenciku.
Sebenarnya… Aku menyukaimu. Bahkan lebih dari itu. Aku mencintaimu, Choi Jin Ri.’

Aku menutup mulutku dengan tangan kiriku. Dia… Apa? Sejak kapan? Tanyaku dalam hati ketika aku membaca surat ini. Bagaimana bisa? Lalu aku melanjutkan.

‘Sebelumnya aku tidak mau memberitahumu tentang perasaanku ini. Tapi aku tidak mau rasa ini terpendam untuk selamanya walaupun pada akhirnya Minwoo dan Chaerin Noona akan memberitahumu, tetapi aku tidak mau kalau kau tahu perasaanku dari orang lain.’

Aku menatap Minwoo. Ada hubungan apa mereka berdua? Mataku kembali kesurat lagi.

‘Walaupun kau hanya menganggapku sebagai sahabat, tapi kadang kala aku menginginkan lebih dari itu. Yah, seperti menjadi kekasihmu. Aku terlalu berharap ya? Ha, ha, aku tahu tak akan mungkin. Kau lebih menyukai Minwoo dibanding aku bukan? Dia orang yang baik. Aku sedikit lega kau bersamanya kalau aku sudah tak berada disisimu lagi.’

Apa maksudnya ini? Dia mau pergi?

‘Aku tahu saat kau membaca kata aku tak akan bersamamu lagi, kau akan bingung.
Akan kujelaskan. Aku akan pergi ke luar negeri dan tidak akan kembali ke korea lagi. Jangan tanya aku akan kemana. Aku tidak akan memberitahumu. Dan kuharap kau tak akan pernah mencariku. Aku ingin meminta maaf atas sikapku kepadamu. Sekarang aku akan menjawab pertanyaanmu yang selalu tak kujawab. Aku akan menghilangkan rasa penasaranmu.
Kau bertanya apa hubunganku dengan Geum Hee bukan? Sebenarnya aku dan Geum Hee adalah mantan pasangan kekasih. Lalu ia memutusku hanya karena ia menyukai lelaki yang lebih tampan dariku dan meninggalkanku. Itu sebabnya ketika kau menyuruhku menghentikannya yang sedang mencoba bunuh diri, aku membiarkannya. Tapi saat kau bersikeras untuk menghentikannya dan berlari keatas, aku mulai berfikir. Kalau Geum Hee benar-benar jatuh dan hanya ada kau diatas sana, semua orang pasti akan menuduh kalau kau yang membuatnya jatuh. Aku tak mau itu menimpamu. Jadi aku. Menangkapnya ketika ia jatuh. Tapi nasib buruk menimpaku lagi, ia malah mengajakku untuk bersamaku.
Tentu saja aku tak mau. Dia mengerti. Tapi dia ingin aku menemaninya pergi. Jadi kuturuti saja apa maunya. Lagipula aku tahu kau dan Minwoo akan berkencan. Aku ingin memastikan kalau Minwoo menjagamu dengan baik. Dan kulihat kau bahagia berada disampingnya.
Satu lagi. Ingat ini baik-baik. Kau harus menjaga kesehatanmu. Jangan lupa makan, istirahat yang cukup, jangan berjalan sambil menunduk, dan jangan memperlihatkan kelemahanmu kepada semua orang. Jadilah gadis yang kuat! Aku beritahu satu hal lagi. Ini adalah surat pertama dan terakhir yang kubuat dan dua minggu yang lalu adalah hari terakhir kita bertemu. Sampaikan salamku pada yang lainnya.
Mungkin itu saja. Jangan lupa perintahku ya gadis kecil. Aku mencintaimu.
Sahabatmu, Jo Youngmin.’

Aku menatap Minwoo dengan pandangan bingung. Apa maksud surat ini? Jelas-jelas ia menulis surat ini agar aku tak penasaran lagi. Tapi bukannya rasa penarasanku hilang, justru makin bertambah rasa ini. “Bisa jelaskan semua ini padaku?” Pintaku pada Minwoo.

“Ne,” sahutnya.

Kenapa ia hanya menjawab sesingkat itu? “Apa maksudnya ini? Dia mau kemana? Dan… Tidak akan kembali?” Aku langsung melontarkan pertanyaan kepadanya. “Apa hubungan kalian berdua? apa yang kalian sembunyikan dariku? Surat ini sungguh ganjil.”

“Dia tidak menjelaskan semuanya?” Tanyanya bingung lalu menggerutu tak jelas. Lalu ia menarik napas. “Baiklah, agar kau tak bingung, akan kujelaskan.” Katanya. “Kau tahu ia mencintaimu?” Aku menunduk lalu menganggukan kepala. “Dia menyukaimu sejak pertama kali melihatmu disekolah.”

“Pertama kali melihatku?” Gumamku.

“Ne,” aku mendengarnya menyahut. “Cinta pandangan pertama. Dan kau sudah tahu kalau Geum Hee adalah mantan kekasihnya?”

Aku mengangguk. “Ne, dia memutus Youngmin karena menyukai pria lain.”

“Tepat. Semenjak itu, ia tak pernah percaya kepada orang lain dan memilih menutup diri. Dan berkelakuan aneh selama berbulan-bulan. Tetapi setelah melihatmu, ia mulai kembali perlahan-lahan.”

“Apa karena itu ia jadi cuek dan dingin?” Tanyaku lagi.

“Tidak.” Bantahnya. “Itu memang dia sebenarnya. Tapi itu hanya topeng dan dibalik topeng itu, ia sangat lembut dan perhatian.”

“Benarkah?”

“Ne, sebenarnya aku dan dia adalah sepupu. Keluargaku dan keluarganya sangat dekat.” Akunya. Aku membelalakan mata menatapnya tidak percaya. “Dia menyuruhku untuk merahasiakannya. Bukan karena tak mau mengakuiku tetapi ada alasan lain yang aku tak tahu itu apa.

“Saat tahu kau menyukaiku, ia mendiamiku beberapa hari. Untung saja orangtua kami tak tahu kalau ia mendiamiku karena ia memang pendiam, kalau tidak… Yah, mungkin masalahnya makin rumit. Lalu karena tak tahan didiaminya, aku bertanya pada kembarannya,”

“Tunggu. Dia punya kembaran?” Selaku.

Ia menatapku bingung. “Kau tidak tahu?”

Aku menggeleng. “Dia tak pernah memberitahuku tentang keluarganya.” Ujarku.

“Aku tidak heran.” Sahutnya. “Mau kulanjutkan?” Aku mengangguk. “Saat itu kupikir mungkin Youngmin cerita kepada Kwangmin, kembarannya, atau mungkin Kwangmin punya hubungan batin dari Tokyo ke Seoul.”

“Kembarannya di Tokyo?” Selaku lagi.

“Ne, dia disana sejak lulus sekolah dasar, setelah ibu kandungnya meninggal.”

“Meninggal? Lalu, wanita tengah baya yang sering kulihat siapa?” Kenapa Youngmin tak menceritakan hal sepenting itu?

“Nanti saja kujelaskan.” Katanya ketika ponselnya berbunyi. “Ne, Chaerin Noona?” Pasti kakak perempuan Youngmin yang menelfon. “Mwo? Lalu bagaimana keadaannya?”

TBC

10 thoughts on “A Liar (part 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s