A Liar (part 3)


Annyeong, aku balik lagi sama ff ‘A Liar’ part 3. Tadinya cuma mau buat sampe part 3 aja. Tapi kayaknya gak cukup. Nah di part selanjutnya ada penjelasannya lagi. Jadi tungguin aja ya. Maaf kalo jelek ceritanya.
Selamat membaca~
***

“Bukan seperti itu maksudku.” Kudengar ia berteriak.

Masa bodolah denganya. Kenapa kau memikirkannya sedangkan ia sendiri tak memikirkanku? Lagipula hal yang kutunggu-tunggu sudah terwujud bukan? No Minwoo, laki-laki yang kusukai menyatakan cintanya padaku. Kenapa aku meski ragu untuk menerimanya hanya karena Youngmin? Kau bodoh, Choi Jin Ri!

“Annyeong, Choi Jin Ri,” sapa Minwoo ketika aku memasuki kelas.

Aku melirik kebelakang. Ia tidak mengejarku untu minta maaf? Aish anak ini benar-benar! Aku sedikit kecewa, tapi mau bagaimana lagi? Toh didepanku sudah ada No Minwoo dengan senyumnya yang sangat mengagumkan. “Annyeong, Minwoo-ah,” balasku tersenyum.

“Kenapa sepagi ini wajahmu tertekuk begitu?” Tanyanya.

“Tidak ada apa-apa. Hanya kurang tidur.” Elakku. Dan dia bergumam tak jelas.
****

Ketika jam istirahat berdering, dengan gesit Minwoo menarikku keluar kelas sebelum guru Han keluar dari kelas. Dan bisa kulihat seluruh orang dikelas menatap tajam kearahku terutama murid perempuan dan Youngmin, tentu saja dia juga, sejak lama aku mengenalnya tapi baru kusadari sifat aslinya sekarang. Berarti sebelumnya, kebaikannya, senyumnya, serta tawanya hanyalah topeng.

“Bagaimana?” Tanyanya ketika kami sampai diatap sekolah.

“Bagaimana apanya?” Aku balik bertanya seolah-olah tidak tahu apa maksudnya. Tak mungkin kalau aku langsung menjawab ‘ya, aku mau’ bukan? Itu gila. Benar-benar gila. Aku tidak mau dia menganggapku gadis tiada harganya. “Entahlah.” Jawabku asal ketika ia terdiam lama sambil menatapku. “Aku masih bingung.” Angin menerbangkan rambutku.

“Kenapa harus bingung? Bukankah kau juga menyukaiku?” Aku menatapnya. Aku harus balas apa? “Oke. Aku tahu ini terlalu percaya diri. Tapi…” Ia menggantungkan kata-katanya.

“Tapi apa?” Tanyaku penasaran.

“Janji kau tak akan tertawa?” Ia bertanya padaku. Aku mengagguk untuk menyakinkannya. Kudengar ia menghela nafas berat. “Sebelumnya aku belum pernah berpacaran. Aku takut kau menolakku, jadi tolonglah terima permintaanku.” Pintanya.

Aku membelalakan mataku. “Benarkah kau belum pernah? Sekalipun?” Laki-laki setampan dia belum pernah berpacaran? Aku tidak percaya.

“Sudah kubilang jangan tertawa.”

“Aku tidak tertawa.” Sahutku. “Aku hanya tidak percaya. Kau… Kau ini sangat tampan, tinggi dan pintar,” ia menatapku sambil tersenyum menggoda. Buru-buru aku menutup mulutku setelah tahu maksud dari senyumannya. Bodoh, bodoh, bodoh! Bagaimana bisa aku kelepasan bicara? Kau bodoh Choi Jin Ri! Rutukku dalam hati.

Sesaat ia diam. Aku mengikuti diam tak tahu harus bicara apa. Angin berhembus lagi. “Jin Ri-ah,” panggilnya.

“Mm?” Sahutku.

“Bagaimana?” Ia berdeham. “Maksudku, kau mau jadi kekasihku?” Tanyanya.

Aku sangat-sangat menginginkannya. “Ne, aku mau.” Jawabku.

“Gomawo,” katanya sambil tersenyum.
****

Sudah satu minggu lebih aku dan Minwoo menjadi pasangan kekasih–tentu saja gosip ini menyebar karena kepopuleran Minwoo–dan sudah seminggu pula Youngmin menghilang. Ia tidak masuk kesekolah dan tidak mau menjawab telfon ataupun membalas pesan dariku.

Walaupun belakangan ini hubunganku dengan Youngmin sedang tidak bersahabat, tetap saja aku khawatir. Jadi kuputuskan hari ini untuk kerumahnya. Aku belum pernah datang kerumahnya, tapi aku tahu alamatnya dimana.

Sesampainya dirumah besar yang bergaya klasik di pusat kota, aku menekan bel. Beberapa menit kemudian, seorang wanita cantik yang kukira berumur awal 20an keluar dari dalam rumah. Bisa kutebak ia adalah noona dari Jo Youngmin karena mereka terlihat mirip. “Teman Youngmin?” Tanyanya langsung.

Benar-benar mirip. Wajah maupun sikapnya yang langsung tanpa basa-basi seperti itu. “Ne, annyeong haseyo,” aku menunduk sopan.

“Kau mencari Youngmin?” Tanyanya lagi.

“Mm,” anggukku.

“Dia…” Sebelum ia menjawab, kudengar ponselnya berdering. “Ne, Youngmin-ah.” Katanya setelah menjawab telfonnya. Youngmin yang menelfon? “Ada yang mencarimu… Seorang gadis…” Lanjutnya berbicara ditelfon. “Siapa namamu?” Tanyanya padaku.

“Choi Jin Ri,” ujarku.

“Choi Jin Ri katanya… Apa?… Oh, ya aku mengerti. Nanti kutelfon lagi.” Katanya langsung menutup telfon. “Kau mau masuk dulu?” Tanyanya.

“Ah, tidak usah.” Tolakku. “Aku hanya mau tanya kenapa Youngmin tidak masuk sekolah sampai seminggu? Apa dia sakit?”

“Kau mengkhawatirkannya?” Ia balik bertanya.

“Tentu saja aku mengkhawatirkannya. Aku ini sahabatnya.” Sahutku. Bagaimana aku tidak khawatir kalau ia menghilang tiba-tiba tanpa alasan? Makiku dalam hati.

“Oh, dia tidak ada dirumah.” Ujarnya. “Mungkin lusa dia sudah masuk sekolah.”

“Oh,” sahutku. “Baiklah. Terima kasih dan maaf menggangu. Sampai jumpa.”

“Ne, sampai jumpa.”

Aku baru sadar sekarang. Youngmin mengetahui apapun tentangku sedangkan aku tidak mengetahui apapun tentang Youngmin kecuali sikapnya yang dingin itu. Bahkan aku tak tahu kalau ia punya kakak perempuan. Bodoh sekali aku ini. Pantas saja ia mengendus ketika aku menganggapnya sahabat. KAU BODOH, CHOI JIN RI!
****

Tepat seperti yang dikatakan kakak perempuan Youngmin, hari ini ia terlihat dikelas. Kulihat ia menaruh kepala diatas meja. Dengan segera aku duduk disebelahnya.

“Hei, Youngmin, kenapa kau tidak masuk sekolah selama seminggu? Kenapa kau tidak menjawab telfon dan membalas pesan dariku? Kau marah padaku? Kalau begitu aku minta maaf.” Aku menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang ada dikepalaku selama seminggu berlalu.

“Kau tidak tulus berterima kasih.” Sahutnya masih menutupi wajahnya.

“Jawab dulu pertanyaanku baru aku akan meminta maaf dengan tulus.” Aku bersikeras.

“Kau tak perlu tahu.” Sahutnya dingin.

Aku berusaha mengendalikan emosiku. “Kau…” Aku tak tahu harus bilang apa. “Aku selalu memberitahumu apa yang sedang terjadi padaku. Aku membolehkan kau tahu keluargaku, apa yang terjadi padaku, serta orang-orang yang sedang dekat denganku. Mengapa kau tidak membolehkan aku tahu tentangmu? Aku bahkan tak tahu kau punya kakak perempuan. Sahabat macam apa aku ini.” Aku benci pertengkaran dipagi hari. Tapi aku benar-benar lelah dengan sikapnya yang aneh seperti ini.

“Bukankah aku tidak penting bagimu?” Ia bertanya padaku masih menutupi wajahnya.

Sebenarnya apa yang dipikirkan orang ini tentang aku? Astaga. “Kau sangat penting bagiku!” Seruku.

Ia mengabaikanku. Ia bangkit lalu mengajak Minwoo yang baru saja masuk kekelas untuk keluar lagi. Kulihat wajah Youngmin sedikit pucat. Apa dia sakit?

Beberapa menit kemudian, saat guru Han sudah mengajar dikelas Minwoo kembali ke kelas lalu membisikkan sesuatu kepada guru Han. Kulihat guru Han mengangguk dan Minwoo menghampiriku–lebih tepatnya menghampiri tempat duduk Youngmin–dan mengambil sesuatu–yang entah itu apa–dari dalam tas Youngmin.

“Apa yang terjadi?” Tanyaku pelan pada Minwoo.

Ia melihatku sekilas seraya tersenyum. “Nanti kuceritakan.” Sahutnya lalu pergi.

Sepanjang pelajaran, aku tidak berkonsentrasi karena diotakku terus berputar-putar pertanyaan-pertanyaan yang belum ada yang menjawab. setahuku, hubungan antara Youngmin dan Minwoo tidak terlalu bagus terlebih lagi sikap dingin Youngmin.

Kenapa sampai sekarang mereka belum kembali? Tanyaku frustasi dalam hati saat jam istirahat selesai. Aku benar-benar merasa ‘sendiri’ sekarang. Sebelumnya aku tidak merasa seperti ini walaupun sering kali aku menyendiri. Tapi ini berbeda. Ada rasa tak nyaman menyelimuti diriku. Apa artinya ini?

TBC

8 thoughts on “A Liar (part 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s