a liar


Annyeong, aku balik lagi ngepost ff terbaruku. Ini belum selesai, jadi aku belum tau ini sampe part berapa.
Kalo udah baca, kasih komen ya. Aku kan baru jadi penulis ff, jadi butuh banget saran sama kritikan. Terus kalo ada yang mau ngasih ide cerita bisa mention ke twitterku ya @ennyhtm. Terimakasih.
Ohiya, satu lagi. Anggep aja disini Sulli 95line ya sama kayak Minwoo dan Youngmin.
Selamat membaca~
****

Aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Melihatnya saat bercanda dengan temannya, melihatnya menari saat berada dikelas menari, melihatnya berkonsentrasi pada saat ujian tertulis maupun praktek.

Sepulang sekolah aku harus ke perpustakaan untuk mengembalikan beberapa buku. Aku melirik kedalam ruang tari saat melewati ruangan tersebut lalu mundur begitu tersadar siapa yang sedang berlatih diruangan tersebut. No Minwoo. Dia sedang berlatih dengan lagu yang tidak aku kenal.

Aku sangat suka melihatnya menari. Entah kenapa aku merasa kalau ia sangat berbeda dari biasanya kalau ia menari. Yang paling kusuka saat ia menari adalah tatapan matanya yang tajam serta keseriusannya. Aku begitu menyukainya ketika melihatnya pertama kali menari dikelas menari. Padahal pertama kali aku melihat wajahnya, aku tidak terlalu menyukainya karena ia terlihat seperti wanita walaupun aku tahu ia tampan. Tapi entah kenapa aku tidak menyukai kalau ia tersenyum sangat manis.

Tatapan mata kami bertemu. Secepat mungkin aku berlari ke perpustakaan.
***

“Minwoo, aku menyukaimu,” ketika kudengar suara seorang gadis berkata seperti itu dibalik pintu, aku mencoba menguping sambil sesekali mengintip mereka berdua.

“Oh?” Kudengar Minwoo menyahut. “Maaf Geum Hee aku tak bisa. Aku lebih suka kalau kita berteman.”

Aku mengintip lagi, kulihat reaksi gadis bernama Geum Hee itu sangat shock. Berani sekali ia menyatakan cinta pada Minwoo? Tanyaku dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepala. Lalu aku meninggalkan mereka.
***

“Aku lelah melihatmu seperti ini terus,” kata sahabatku, Jo Youngmin, ketika aku melihatnya dari jauh. “Berhentilah mengikutinya.”

Aku membalikkan badan dan menatapnya lalu menyenderkan badanku di dinding sambil menunduk. “Andai aku bisa,”

Ia berpindah, jadi berdiri disampingku. “Aku tahu kau bisa.” Katanya. “Asal kau tidak hanya melihatnya.”

“Maksudmu?” Tanyaku bingung.

“Maksudku…” Ia berfikir sebelum menjawab. “Hm, begini, aku tahu yang kau fikirkan hanya dia. Dan sekarang cobalah memikirkan orang lain selain dia.” Ia menjelaskan lalu bergumam tidak jelas.

Apa benar aku hanya memikirkannya? Kalau iya seperti itu dan aku harus memikirkan orang lain selain ia.”Aku tidak hanya memikirkannya. Aku memikirkan appa dan ommaku yang ada disurga sana, oppaku dan kau tentu saja, sahabatku.”

Aku melihat ekspresinya. Aneh sekali. Aku tak tahu apa yang difikirkannya. Lalu ia mendesis. “Hei, maksudku bukan seperti itu.”

Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. “Lalu apa?”

“Maksudku, laki-laki selain No Minwoo yang harus kau fikirkan. Kau harus menyukai laki-laki lain yang juga,” ia berdeham, “menyukaimu.”

“Oh, Aku mengerti.” Ujarku. “Tapi siapa yang menyukaiku? Aku pikir tidak ada.” Aku menunduk. “Siapa yang menyukai gadis jelek sepertiku?” Tanyaku lirih.

“Hei, siapa bilang kau jelek?” Tanyanya sambil membungkuk agar melihat wajahku.

“Aku tidak tahu.” Jawabku. “Aku hanya merasa bahwa diriku jelek.”

“Tidak ada yang bilang kau jelek. Kau saja yang terlalu merendahkan diri.”

“Aku?” Tanyaku. Kulihat ia mengangguk. “Jadi aku harus bagaimana?” Tanyaku lagi padanya.

Ia melihatku. Aku tahu ia sedang berpikir. “Ikut aku,” lalu ia menarik tanganku.

“Hei, mau kemana?” Tanyaku sambil berlari mengimbanginnya. “Hei! Pelan-pelan!” Ia berhenti. Aku menabraknya. “Hei! Jangan berhenti mendadak!” Ia mengabaikanku. Kulihat matanya terpaku keatas. “Ada apa?” Tanyaku sambil melihat kearah pandangannya.

“Astaga!” Kulihat diatas sana, gadis yang menyatakan cinta pada No Minwoo tapi ditolaknya ingin bunuh diri. “Ayo kesana.” Ajakku.

“Jangan.” Ia menahanku. “Biarkan saja ia,” katanya lalu pergi.

Aku melepaskan genggaman tangannya. “Ada apa denganmu?!”

“Nanti juga ada yang mencegahnya. Biarkan saja.” Katanya masih tetapa tidak memandangku.

“Kau gila!” Makiku lalu pergi menolong gadis itu. “Apa-apaan dia, setenang itu melihat orang lain ingin bunuh diri? Sssh!” Gerutuku.

“Jangan lompat!” Teriakku ketika sampai diatap. “Tolong jangan melompat. Ingat, ibumu dirumah pasti sangat sedih.” Kataku tersenggal-sengal kehabisan nafas karena berlari.

Ia membalikkan badan. “Siapa kau? Tak usah ikut campur!” Ucapnya. “Kau tak tahu rasanya ditolak mentah-mentah oleh orang yang kau sukai.” Ia memalingkan pandangan.

Jadi karena itu? Batinku. Dasar lemah. “Aku memang tak tahu rasanya. Tapi kalau kau menyanyangi orang tuamu, terutama ibumu, jangan melompat.”

“Cih, sudah kubilang jangan ikut campur!” Katanya lalu terjun kebawah.

“HEI!” Aku teriak sekeras-kerasnya lalu berlari kepinggir ingin melihatnya apakah ada yang menolongnya.

Aku melihat kebawah. Seorang laki-laki telah menggendong gadis tadi. Laki-laki itu menatapku dengan tatapan dinginnya. Jo Youngmin. “Huh, syukurlah dia ada disana.” Gumamku lalu turun kebawah.

Ketika aku dibawah, gadis tadi sudah berdiri sendiri dengan wajah pucat. “Choi Jin Ri, sudah kubilang tak usah ikut campur.” Kata Youngmin sambil sekilas melihat gadis itu sinis. “Ayo pergi,” lalu ia menarik tanganku.

“Youngmin,” kudengar gadis itu memanggilnya. “Gomawo.” Youngmin tetap berjalan, tapi aku yakin ia mendengarnya. Ada hubungan apa mereka?
***

Hari ini aku berangkat ke sekolah dengan perasaan tak enak. Saat memasuki gerbang sekolah, banyak yang memperhatikanku.

Aku memang telah merubah penampilanku, sebenarnya buka penampilan, melainkan gaya rambut saja. Aku telah memotong rambutku diatas pinggangku. Sebenarnya Youngmin menyuruhku memotong rambutku sampai sepunggung. Tapi aku bersihkeras agar rambutku hanya dipotong sedikit saja, menghilangkan rambut yang bercabang. Dan sekarang aku memakai poni. Lagi. Padahal aku sengaja memanjangkannya.

Aku merasa tidak nyaman dengan perubahanku sekaligus pandangan orang-orang.

“Jangan menunduk kalau sedang berjalan.” Aku membalikkan badan kearah suara. Youngmin sedang bejalan sambil tersenyum saat aku melihatnya. “Kau terlihat cantik,”

Sekarang kami berjalan bersama menuju kelas. “Aku tidak nyaman seperti ini,” keluhku padanya.

“Kenapa tak nyaman? Kau terlihat lebih cantik seperti itu.”

“Memang kau tak melihat orang-orang jadi melihat kita? Aku tidak suka seperti ini.” Kataku sambil menunduk.

Aku terus berjalan sambil menunduk. Lalu kurasakan kepalaku menabrak sesuatu. “Aduh,” keluhku kesakitan sambil mengelus kepalaku.

“Sudah kubilang jangan menunduk kalau berjalan.” Youngmin menasihatinku sambil mengusap kepalaku.

“Maafkan aku,” suara yang tidak asing lagi bagiku terdengar didepanku.

Aku mendongak cepat. “Ah, aku yang salah. Maafkan aku, Minwoo-ssi.” Kataku sambil mengangguk dalam-dalam.

“Mm, kau Choi Jin Ri?” Dia tahu namaku?

“Ne,” sahutku. Aku sungguh senang mengetahui bahwa ia tahu namaku.

Ia melihatku sejenak. “Kau cantik sekali,”

Seketika itu Youngmin pergi. Aish, kenapa anak ini? Tanyaku dalam hati. “Kamsahamnida,” kataku sambil tersenyum. “Aku pergi dulu,” sebenarnya aku belum mau meninggalkannya. Tapi, aku harus menyusul Youngmin. “Youngmin!” Panggilku. “Kau ini kenapa?” Tanyaku setelah berhasil mengejarnya.

“Aku lupa belum mengerjakan tugas dari guru Kim.” Sahutnya tanpa menatapku.

“Sssh. Kau ini. Memang semalam kau kemana?”

Ia tidak menjawab dan tetap berjalan angkuh. Hh, aku paling benci kalau ia mulai seperti ini. Dingin, angkuh, cuek. Entah aku beruntung atau justru sebaliknya bisa berteman dengannya dari sekian banyak orang yang ingin menjadi temannya.

“Youngmin,” panggil suara seorang gadis dari balik punggungku. Aku berhenti dan berbalik dan kurasa Youngmin juga mengikutiku karena gadis itu melanjutkan, “boleh aku bicara berdua denganmu?”

TBC

9 thoughts on “a liar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s