Forget Him (part 6)


Annyeong, akhirnya endingnya selesai aku edit lagi biar sedikit lebih panjang dari yang lain. Ini aku buat sebagus mungkin dari otakku sendiri. Kalo jelek maaf ya namanya juga amatiran.
Selamat membaca~
****

“Sooyoung, apa benar kau… Berpacaran dengan Kwangmin?” Tanyanya tiba-tiba.

Mwo? “Kenapa… Kau berfikir seperti itu?” Tanyaku linglung. Jangan sampai ia berfikir seperti itu. Tuhan, tolong aku.

Dia terlihat salah tingkah. “Sudah kuduga memang tidak,” gumamnya pelan. Tapi tetap saja aku bisa mendengarnya. “Kemarin aku melihatmu bersama Kwangmin. Apa itu alasanmu tidak mau pergi bersamaku?”

“A… Ani, aku hanya kebetulan saja bertemunya.” Jawabku gugup.

“Oh,” ia tersenyum sangaaat manis. Aku jadi ikut tersenyum melihatnya. Beberapa menit kami saling diam, ia dengan pikirannya sendiri sedangkan aku hanya melihat kosong ke gedung sekolah.

Suasana begitu hening. “Aku ke kelas dulu.” Kataku sambil berbalik. Aku takut kelas masuk ke kelas walaupun bel masuk masih satu setengah jam lagi.

Ketika aku berlalu meninggalkannya, kurasakan tanganku digenggam. Aku berbalik, “ne?”

“Sooyoung, aku menyukaimu.”

Kwangmin POV

Hari ini aku bangun lebih pagi dari biasanya. Rencananya, hari ini aku akan menyatakan cintaku pada Park Sooyoung. Aku juga sudah meminta bantuan Ji Eun. Aku ingin Sooyoung tahu bahwa ia sangat istimewa bagiku. Dan aku tahu ia suka dengan mawar putih, jadi kusiapkan sepuluh ikat mawar putih di tasku.

Sekarang aku ingin membawa motorku. Sepulang sekolah aku ingin mengajaknya berkencan. Aaah~ aku sudah tidak sabar menunggu ini.

“Sooyoung,” aku mendengar suara laki-laki menyebut nama Sooyoung. Aku mengintip dari balik dinding. “Aku menyukaimu.” Lanjut laki-laki yang kukenal, Jeongmin, mengatakan itu didepan Sooyoung langsung sambil menggenggam tangannya.

Pupus sudah harapanku. Aku tahu Sooyoung akan menerimanya, inilah yang ditunggu-tunggu olehnya. Kuambil seikat bunga mawar putih dari tasku lalu kubuang begitu saja. Rasanya aku mau menghilang dari muka bumi ini sekarang juga.

Sooyoung POV

“Aku menyukaimu. Aku ingin kau menjadi kekasihku.”

Deg. Jantungku berdetak aneh. Entah kenapa aku tidak ingin ia mengatakan ini padaku. Aku melihatnya ia terus menatap kedalam mataku menunggu jawab. “Mengapa kau menyukaiku dan ingin memilikiku?” Pertanyaan itu mengalir saja dari mulutku. Aku melepaskan genggaman tangannya.

Sekilas bayangan wajah panik Kwangmin dan senyumnya melintas dalam kepalaku. Aish kenapa aku memikirkannya? Harusnya aku senang karena Jeongmin menyatakan cinta padaku. Sooyoung, kau bodoh sekali!

“Sooyoung?”

“Eh? Apa?” Apa dia sudah bilang alasannya?

“Kau tidak mendengarnya?” Tanyanya.

Aku menggeleng.

Ia menghela nafas. “Aku menyukaimu karena kau sangat cantik. Dan… Aku tahu kau juga menyukaiku tiga tahun ini.”

“Kau tahu?” Tanyanya kaget. “Kalau kau tahu, kenapa tak menyatakan dari dulu?”

“Aku suka melihatmu seperti itu. Aku tidak ingin kau dimiliki oleh orang lain.” Ujarnya.

Aku baru sadar kalau Jeongmin egois. Tidak, bukan egois tapi sangat egois. “Oh,” sahutku dengan senyum yang kupaksakan. “Maaf Jeongmin, tapi aku sudah menyukai orang lain.” Sebenarnya aku tak tahu menyukai siapa.

“Apakah orang itu… Kwangmin?” Tanyanya hati-hati.

Aku menggangguk asal. “Ne, dia sangat baik dan perhatian padaku.” Tidak sepertimu, tambahku dalam hati.

“Oh,” dia mengangguk. “Baiklah.” Lalu ia pergi meninggalkanku.

Aku melihatnya menjauh. Kuedarkan pandanganku. Disudut tempat parkir, aku melihat seikat mawar putih tergelatak ditanah begitu saja. “Omo! Siapa yang membuangmu?” Tanyaku pada seikat mawar putih itu sambil merapihkannya kembali.

Aku masuk kekelas membawa mawar putih itu. Ji Eun melihatku lalu tersenyum. Kenapa dia?

“Annyeong, Sooyoung. Bunga dari siapa?” Tanyanya sambil menyikutku.

Aku mengangkat bahu. “Entahlah. Aku menemukan ditempat parkir.”

Dia mengedarkan pandangan lalu menggumam dan kudengar ia menyebut nama Kwangmin dan aku. “Ne?” Tanyaku.

“Aniyo.” Sahutnya. “Sooyoung, kau lihat Kwangmin tidak?” Tanyanya.

Aku menggeleng. “Tidak.”

Panjang umur. Yang dibicarakan datang dengan wajah kesal sekali. Kenapa dia?

Ji Eun menghampirinya. Lalu membisikan sesuatu di telinga Kwangmin. Kwangmin melihat seikat mawar putih yang kupegang lalu matanya membesar.

Lalu dengan kesal mengambil paksa bunga yang kupengang dan membuangnya keluar.

“Hei! Apa yang kau lakukan?” Teriakku kesal ketika ia kembali ke dalam kelas. Semua orang dikelas menatapku dan Kwangmin.

Dengan santai ia duduk ditempat duduknya.
*****

Sudah satu minggu lebih Kwangmin mendiamiku. Aku tak tahu apa penyebabnya. Apa aku punya salah? “Kwangmin, apa aku melakukan kesalahan padamu?” Tanyaku sepulang sekolah. Aku tidak tahan lagi melihatnya seperti ini.

“Tidak ada.” Sahutnya dingin.

“Lalu?”

Dia tidak menjawabku. Dia langsung pergi begitu saja. Aish anak ini aneh sekali.

Aku melangkahkan kakiku ditaman dipusat kota. Tiga hari yang lalu pemerintah baru menanam beberapa bunga disana. Tentu saja ada mawar putih. Aku ingin mengunjunginya.

Aku duduk dibawah pohon rindang, tempat favoritku, seperti biasa. Pemandangan dari sini sudah berubah, disebrang danau ditanam berbagai macam bunga yang berwarna-warni. Untung saja aku membawa kamera digitalku.

Lalu aku menangkap seseorang seperti sedang memberikan seikat mawar putih pada… Ku?

Kualihkan kamera dari mataku. Ia menurunkan seikat mawar putih itu dari wajahnya. Kwangmin? Mengapa ia kemari?

“Maafkan aku,” katanya. “Ini untukmu.” Lalu ia menyerahkan seikat mawar itu padaku.

Aku menaruh kameraku, berdiri dan mengambil mawar tersebut. “Gomawo,” mawar ini sungguh cantik.

“Kukira kau menerima Jeongmin menjadi kekasihmu. Ternyata tidak. Tadi Ji Eun memberitahuku.” Ucapnya tiba-tiba.

“Darimana kau tahu?”

“Aku melihatmu ditempat parkir.”

Aku melirik seikat mawar ini sekilas. “Jadi…” Aku tak melanjutkannya.

“Ne, itu bunga dariku.” Hening beberapa saat. Dia menunduk. Sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
“Kwangmin, boleh aku tanya sesuatu padamu?” Tanyaku.

Kulihat ia mengangguk. “Tanyakan saja.”

“Waktu itu, tak sengaja aku melihat fotoku dilaptopmu dan itu lumayan banyak. Apa maksudnya itu?” Tanyaku hati-hati.

Kulihat ia menunduk. “Maafkan aku.”

Aku menatapnya. “Kenapa minta maaf?” Tanyaku bingung.

Ia tidak menjawab. “Sooyoung,” panggilnya.

“Mm?”

“Saranghae.” Aku langsung mendongak menatapnya. Ia menatap mataku dalam-dalam.

Jantungku berhenti mendadak.

Kwangmin POV

“Saranghae,” akhirnya aku memberanikan diri mengatakannya. Lalu ia menatapku kaget. Wajahnya memerah. Aigoo~ wajahnya lucu sekali. “Jadilah kekasihku.” Lanjutku.

Dia menundukan kepalanya. Lalu, “nado saranghae, Kwangmin-ah,” sahutnya malu-malu.

Omo! Dia juga mencintaiku. Jantungku melompat-lompat kesenangan. Langsung kupeluk dirinya.

Rasanya waktu seakan berhenti ketika memeluknya. Rasa nyaman menyelimuti diriku. “Aku janji tidak akan menyakitimu.” Bisikku sambil mengeratkan pelukanku.

Ia melepaskan pelukanku. Kenapa dia?

Kulihat wajahnya merah sekali dan ia terlihat lucu sekali. “Kau belum menjawab pertanyaanku.” Katanya.

“Yang mana?” Tanyaku pura-pura tak tahu.

“Jangan buat aku mengulang.” Ia mencoba galak tapi justru terlihat kalau ia sangat malu.

“Ne, ne.” Sahutku. “Sebenarnya aku menyukaimu sejak aku pertama kali melihatmu.”

“Saat dikelas?”

Aku tertawa. “Bukan. Pertama kali aku melihatmu disini. Kau ingat syal coklat?” Kulihat ia menggangguk, jadi aku melanjutkan. “Itu aku yang memakaikan kelehermu. Sejak itu aku mencari tahu tentangmu dengan menanyakan sekolahmu terlebih dahulu. Lalu aku pindah dan aku meminta agar satu kelas denganmu. Dan sangat kebetulan kelasmu ada bangku yang kosong. Jadi bukan saat kita bertemu dikelas.” Jelasku sambil tertawa saat mengucapkan kalimat terakhir.

“Kenapa tertawa?” Ia menunduk. Dia benar-benar polos.

“Bukan. Kalau aku menyukaimu saat itu, kenapa aku langsung menciummu?” Tanyaku menggoda. Kulihat ia menunduk makin dalam. Kuangkat wajahnya. Aigo~ wajahnya merah sekali seperti kepiting rebus, ha, ha. Ah aku tahu. “Kau memikirkan ciuman itu?” Aku menggodanya lagi.

“Andwae!” Ia memundurkan badannya.

“Kau mau lagi?” Aku mendekatkan tubuhku padanya. “Disini?” Tanyaku.

“Shireo!” Ia menutup wajahnya dengan telapak tangan.

Aku memundurkan tubuhku. Pura-pura marah. Aku ingin lihat reaksinya.

Ia menurunkan telapak tangannya. Begitu melihat wajahku, ia terlihat panik. “Bukan seperti itu. Maksudku, ini tempat umum. Maaf, maaf.” Katanya.

Aku mendongakkan kepala. Tawaku pecah.

“Ya! Kau menipuku!” Teriaknya.

Aku berlari dan ia mengejarku. Sungguh kekanak-kanakan bukan? Tapi aku senang dan ia pun terlihat senang. Sooyoung, percayalah aku akan menjagamu sebaik mungkin dan tidak akan membuatmu menangis lagi.

END

8 thoughts on “Forget Him (part 6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s