Forget Him (part 5)


Annyeong, ini Forget Him part 5 nya. Udah aku edit lagi tapi kalo ceritanya masih gak jelas maaf yaaa
Selamat membaca~
****

Lama-lama aku bosan hanya memandangi danau. Mungkin lebih baik aku kembali kebawah pohon dan mendengarkan musik dari ponselku. Saat aku berdiri lalu berbalik. Tiba-tiba….

Kwangmin POV

Aku tahu mengapa ia tak mau pulang bersamaku. Karena ia ingin pergi ke danau. Aku sering memergokinya tertidur dibawah pohon di tepi danau itu. Itulah pertama kali aku melihatnya, sekitar tiga bulan yang lalu aku melihatnya tertidur dengan air mata mengalir dari matanya.

Saat tertidur ia terlihat cantik. Tapi aku penasaran mengapa ia tertidur sambil menangis. Jadi saat aku melihat ketiga kalinya ia tertidur disana sambil menangis, kuhapus air matanya dan memakaikan syal coklat punyaku agar ia tidak kedinginan.

Aku mengikutinya. Dan kulihat Jeongmin juga mengajak Sooyoung untuk pergi tapi tentu saja dia menolak. Ha ha ha! Rasanya ingin sekali aku tertawa didepan matanya langsung.

Lalu aku mengikuti Sooyoung lagi. Dan benar saja ia kemari. Ia langsung melangkahkan kakinya menuju pohon rindang di tepi danau. Aku tak tahu ia sedang apa dibalik danau, yang kutahu tiba-tiba ia berjalan tanpa alas kaki dan duduk dipinggiran danau. Kulihat ia menerawang. Aku tahu pasti berat menyukai seseorang seperti Jeongmin itu. Kenapa kau tak menyukaiku saja Sooyoung-ah?

Aku tidak tahan lagi melihatnya melamun seperti itu. Kuhampiri ia, sebenarnya aku ingin menutup matanya lalu ia menebak siapa aku. Tapi saat aku mendatanginya, ia berdiri dan berbalik. Tiba-tiba… Ia terjatuh ke danau sambil berteriak. Cepat-cepat aku membantunya. Aku tahu air didanau sangat dingin. Ya tuhan! Ini salahku. Tolong buat dia tidak kedinginan.

Kupasangkan jaketku ke tubuhnya. Dia menggigil. Apa yang harus kulakukan? Astaga!

Lalu aku memakaikan kaos kaki dan sepatu ke kakinya. Semoga rasa dinginnya berkurang. Kubawa tasnya sambil masih memeluknya agar dia menghangat. Lalu kubawa ia kerumahku.

Sooyoung POV

Dia sangat panik ketika aku terjatuh kedanau. Dan jelas saja aku mengigil karena ini musim dingin. Tapi entah kenapa aku tak merasa dingin yang sampai menusuk kedalam tulang. Dia memelukku dari samping lalu membawaku kerumahnya yang kebetulan berada di sekitar sini. “Gomawo,” kataku setelah mengganti pakaian dengan pakaiannya yang kebesaran untukku.

Ia melihatku dari ujung kepala ke ujung kakiku sambil menahan tawa. Hei, memang aku badut! Makiku dalam hati.

“Aku pulang.” Kata seseorang yang suaranya sangat asing ditelingaku. Sontak aku berbalik dan melihat orang yang sangat mirip dengan Kwangmin tetapi warna rambutnya kuning kecoklatan.

Dia menatapku lalu menatap Kwangmin. “Kau… Membawa gadis kerumah?” Tanyanya sambil menatapku lalu menatap Kwangmin dengan tatapan menyelidik.

Aku gadis pertama yang ia bawa kerumahnya?

“Ah, tadi dia terjatuh di danau karena aku, jadi aku membawanya kemari.” Sahut Kwangmin. Wajahnya… Memerah?

“Tidak biasa kau peduli pada orang lain.” Gumam kembaran Kwangmin lalu pergi kekamarnya–mungkin.

Kami saling diam setelah kembarannya menghilang entah kemana. “Aku buat minuman hangat dulu.” Kata Kwangmin tiba-tiba sambil menggaruk kepalanya yang aku yakin tak gatal.

“Ne,” aku duduk disofa sambil mengeringkan rambutku dengan handuk. Kulihat laptop yang masih dinyalakan dan dilayarnya terdapat fotonya sendiri. Tampannya orang ini, batinku. Karena penasaran, aku melihat foto-fotonya saat masih kecil lalu tidak sengaja aku melihat foto diriku yang tertidur dibawah pohon di tepi… Danau?

Kenapa dia punya fotoku? Ada beberapa fotoku yang sedang tersenyum dan tertawa bersama Ji Eun di depan gerbang sekolah. Dan lainnya. Aku tidak mengerti.

Aku menjauh dari laptop itu sebelum Kwangmin melihatku sedang mengotak-atik laptopnya.

“Ini tehnya.” Kata Kwangmin sambil menyodorkan cangkir putih padaku. “Maaf karena membuatmu terjatuh. Pasti dingin sekali.” Lanjutnya ketika aku meniup teh dari luar cangkir.

Aku mendongak menatapnya yang sekarang sedang menunduk. “Maafkan aku,” katanyanya lagi.

“Tidak apa-apa. Itu pengalaman pertama bagiku. Sungguh menyenangkan.” Kataku jujur. Apalagi melihatnya panik seperti tadi sungguh membuatku ingin tertawa keras-keras.

Dia menatapku lagu tersenyum pahit. “Jangan seperti itu.” Ujarku. “Aku bersungguh-sungguh tadi itu menyenangkan.”

“Tetap saja itu salahku.” Dia bersikeras.

“Terserah apa katamu.” Aku sudah malas kalau ada orang yang sudah mulai menyalahkan dirinya sendiri padahal aku sudah bilang tak apa-apa.
Hening beberapa saat. Hanya terdengar suaraku meniup teh yang masih panas. “Kwangmin-ah,” aku membuka pembicaraan.

“Hm?” Sahutnya sambil menatapku.

“Kwangmin-ah, boleh aku bergabung dengan kalian? Aku bosan.” Kata saudara kembar Kwangmin.

“Mau apa kau?.” Tanya Kwangmin ketus.

Kembarannya mengabaikannya lalu ia melihatku, “kau kekasihnya?” Tanyanya padaku.

“Ah, bukan. Aku hanya teman sekelasnya.” Kataku lalu melihat sekilas ke Kwangmin. Raut wajahnya berubah… Kecewa? Kenapa dia kecewa?

“Oh,” gumam kembarannya. “Youngmin imnida. Kau?”

“Sooyoung imnida.”

“Kau tidak pergi dengan temanmu?” Tanya Kwangmin dingin.

“Tidak. Hari ini aku mau dirumah saja.” Sahut Youngmin sambil menyilakan kakinya disofa.

Aku mendengar Kwangmin menghela nafas. Lalu, “tadi kau mau bilang apa?” Tanyanya padaku.

“Aku mau pulang sekarang.” Ujarku. Aku mau menanyakan kenapa banyak fotoku, tapi… Besok sajalah. “Ini sudah terlalu sore.” Tambahku agar ia tak sakit hati kalau kubilang seperti itu.

“Oh,” sahutnya. “Ayo aku antar.”

“Ani,” tolakku. “Aku pulang sendiri saja.”

Dia melihatku dari atas kebawah, aku mengikuti pandangannya dengan bingung. Apa ada yang salah?

“Kau yakin mau pulang dengan pakaian seperti itu?”

Oh, aku tahu. Tentu saja orang-orang akan berfikir macam-macam karena aku memakai pakaian kebasaran milik laki-laki. Bodohnya aku.

“Bagaimana?” Tanyanya lagi.

Aku mengangguk. Aku tak mau orang-orang berfikir yang macam-macam tentang diriku.

“Pakai ini,” Youngmin melempar jaket abu-abu kepadaku.

“Tidak usah,” tolakku mengembalikan jaketnya. Bagaimana bisa aku memakai jaket orang yang baru aku kenal beberapa menit yang lalu?

“Pakai saja. Itu punyaku.” Sahut Kwangmin.

“Oh,” jadi punyanya? Lalu aku membukus tubuhku dengan jaketnya. “Annyeong, Youngmin-ssi.”

“Annyeong.” kudengar ia menyahut.

“Pegangan erat-erat.” Perintah kwangmin setelah aku duduk di kursi penumpang motornya.

Aku hanya memegang pegangan motornya enggan untuk berpenganan padanya. Motor dinyalakan. “Ya!” Teriakku hampir terjatuh dari motor. Lalu aku memegangi jaketnya. Dan tiba-tiba saja tanganku dipindahkan olehnya, sekarang aku memeluknya dari belakang.

Astaga! Rasanya jantungku ingin melompat dari tempatnya. Cepatlah sampai dirumah, doaku dalam hati sambil memejamkan mata. Takut.
****

Pagi ini, entah ada angin apa, tiba-tiba Jeongmin sudah berada didepan rumahku membawa motor putihnya. “Ayo berangkat bersama.” Ajaknya sambil memamerkan senyum yang bisa melelehkanku.

Aku menggangguk saja lalu naik ke jok penumpang dan berpegangan pada pinggangnya.

“Gomawo Jeongmin,” kataku setelah sampai di sekolah.

“Sooyoung, apa benar kau… Berpacaran dengan Kwangmin?”

TBC

4 thoughts on “Forget Him (part 5)

  1. pdhl kwangmin n sooyoung mw ngomong serius..tp malah dganggu youngmin..huhu..
    Itu jeongmin muka tembok y g merasa bersalah sama sooyoung..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s