Forget Him (part 4)


Annyeong, aku balik lagi. Maaf banget lanjutinnya lama. Ini part 4 nya. Maaf juga kalo dikit, soalnya ini ngebuatnya di note hape bukan di laptop.
Selamat membaca~
****

Kwangmin POV

Aku melangkahkan kakiku ringan. Hari ini aku rindu sekali pada Sooyoung. Dia sudah tidak masuk sekolah sejak kemarin karena sakit. Padahal baru kemarin aku tak melihatnya tapi sekarang aku sudah sangat rindu padanya. Dan kutahu Ji Eun juga sedang menjenguknya.

“Jo Kwangmin,” seseorang memanggilku dari balik punggungku.

Aku berbalik dan melihat laki-laki tinggi, tapi bisa kulihat dia lebih pendek dariku beberapa centimeter, dengan rambut agak ikalnya. Aku tahu dia. Kata Ji Eun dia adalah laki-laki yang disukai oleh Sooyoung lebih dari 3 tahun. Mau apa dia? “Ne?” Sahutku.

Setelah berada didepanku, ia menatapku sinis. “Jauhi Sooyoung.”

Aku balik menatapnya tapi tidak dengan tatapan sinis, tapi menahan tawa. Memang dia siapa melarangku untuk menjauhi Sooyoung?

Dia masih diam dan menatapku dengan tatapan seperti tadi. Akhirnya aku buka mulut. “Kau siapanya? Kekasihnya?” Tanyaku. Tanpa menunggu jawabannya, aku melanjutkan. “Oh, kau orang yang selalu menyakiti hati Sooyoung selama 3 tahun ini.”

Aku melihatnya dia tersentak tapi tetap berusaha tenang. Dasar munafik. “Aku yang selalu ada dihatinya. Kau siapa? Kau baru mengenalnya. Jadi jangan ikut campur.” Katanya.

Aku berhenti tertawa dan menatapnya serius sekarang. “Oh, ya? Kalau kau tahu hanya kau yang ‘selalu’ ada dihatinya, kenapa kau mengabaikannya?” Aku menekankan kata ‘selalu’.

Aku lihat dia kebingungan mencari kata-kata yang akan menjatuhkanku. “Aku… Itu bukan urusanmu.” Katanya tergagap.

Cih, benar-benar pecundang orang ini. Apa yang disukai Sooyoung dari orang ini? “Sudahlah, aku buru-buru. Sampai jumpa disekolah.” Kataku lalu meninggalkannya. Bisa-bisanya ia disukai bertahun-tahun oleh orang seperti Sooyoung. Sooyoung hanya membuang-buang waktu, tenaga, dan air mata saja.

Sooyoung POV

“Sooyoung, ada yang mencarimu.” Kata onni ketika membuka pintu kamar. “Laki-laki.” Lanjutnya sambil memberikan tatapan menyelidik padaku.

“Oh? Tunggu disini sebentar Ji Eun.” Aku bangkit dari sofa dan melangkah keluar kamar.

Aku melihat Jo Kwangmin dengan kemeja dan celana Jeans hitamnya duduk di ruang tamu.

“Dia siapa? Pacarmu? Tampan sekali.” Kata onni ketika aku sudah melihat siapa tamunya.

“Ani,” sahutku salah tingkah. “Dia teman sekolah. Onni, tolong panggilkan Ji Eun dikamarku.” Aku mengalihkan pembicaraan.

“Ne, ne,” katanya sedikit kesal.

Tanpa terasa, aku merapihkan baju dan rambutku serta jantungku yang entah kapan mulai berdetak cepat. “Annyeong Kwangmin,” sapaku. “Kenapa datang kemari?” Tanyaku sambil duduk di sebrangnya.

“Ah, aku hanya ingin main saja sekalian ingin menjengukmu.” Kurasakan jantungku berdetak lebih cepat berkali-kali lipat.

Sesaat kami saling diam. Dimana Ji Eun, apa onni tidak memanggilnya? “Kwangmin, aku panggil Ji Eun dulu,”

“Ah, ne,”

Dibalik dinding yang memisahkan ruang tamu dan dapur, aku melihat Ji Eun dan onni sedang mengintip aku dan Kwangmin. Bukannya langsung ke ruang tamu kenapa Ji Eun hanya mengintip dari balik dinding? Aish. Pasti mereka ingin menggodaku nanti. Benar-benar mereka berdua ini mirip. Kenapa bukan Ji Eun saja yang jadi adiknya?

“Sedang apa kalian?” Tanyaku pura-pura tak tahu apa yang mereka lakukan. “Ji Eun, kenapa tak langsung ke sana?”
****

“Sooyoung, mau pulang bersama?” Tanya Kwangmin setelah bel pulang terdengar.

“Maaf Kwangmin, aku mau pergi setelah ini.” Tolakku. Aku sedang ingin ke tepi danau. Entah mengapa hari ini aku merasa ada yang berubah, Kwangmin dan Jeongmin memperlakukanku terlalu berlebihan. Aku merasa risih dengan perlakuan mereka. Jadi aku ingin menyendiri di tepi danau seperti biasa.

“Mau kemana?” Tanyanya penasaran.

“Maaf aku tak bisa memberitahumu. Aku ingin sendiri. Annyeong.” Lalu aku bergegas pergi.

“Sooyoung-ah,” suara yang sangat ku kenal memanggilku dari ujung lorong sekolah.

Aku menundukkan kepala lalu tersenyum. “Ada apa memanggilku Jeongmin-ssi?” Tanyaku langsung.

“Jangan memanggilku ‘Jeongmin-ssi’, panggil saja jeongmin. Mengerti?” Ujarnya. Aku tersenyum sambil mengangguk. “Mau menemaniku ke cafe tempat biasa? Aku yang traktir.” Katanya sambil memamerkan senyum miring yang selalu aku suka darinya.

Tapi aku tak bisa. Aku ingin sendirian sekarang. “Maaf Jeongmin-ah, aku tidak bisa. Lain kali saja bagaimana?”

Dia berfikir sejenak. “Oke. Minggu depan bagaimana?”

Kenapa ia hanya memberi harapan padaku tapi pada kenyataannya dia hanya menyakiti hatiku? “Jeongmin-ah, kenapa kau tak pergi dengan Hyerin?” Tanyaku.

“Aku sudah putus dengannya seminggu yang lalu.” Jawabnya datar. “Jadi bagaimana?”

Benarkah? Ia sudah putus dengan Hyerin? Apa aku punya harapan? Kyaaaa~

Dia berdeham.

“Hm, mungkin minggu depan.” Sahutku.
****

Aku duduk dibawah pohon rindang itu lagi. Hari ini danau hanya didatangin sedikit pengunjung. Dan aku sangat senang akan kenyataan itu.

Seperti biasa kalau danau hanya sedikit orang yang datang, aku melepas sepatu dan kaos kakiku, dan menaruhnya dibawah pohon dengan tasku. Ponsel kubawa. Walaupun ini memasuki musim dingin, tapi aku suka memasukkan kakiku kedalam danau. Ponsel kutaruh di sebelah kanan badanku dan aku melihat beberapa pasangan duduk-duduk dibangku kayu yang tersedia di tamana ini.

Lama-lama aku bosan hanya memandangi danau. Mungkin lebih baik aku kembali kebawah pohon dan mendengarkan musik dari ponselku. Saat aku berdiri lalu berbalik. Tiba-tiba….

TBC

Maaf dikit plus ancur. Lagi males banget ngedit sama udah ngantuk. Tunggu lanjutannya ya. Kamsahamnida.

4 thoughts on “Forget Him (part 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s