Winter’s Love (part 2)


Ini part 2 nya. Yang udah baca, kasih komen ya. Selamat membaca~
****

“Kau harus menyatakan cinta padanya secepat mungkin.” Kata Su Jie lagi setelah kami saling diam beberapa saat karena aku hanya senyum-senyum sendiri.

Hye Mi POV

“MWO?” Teriaknya disebelahku. Ada apa? Kenapa dia? Siapa yang menelfonnya itu? Aku meliriknya sekilas lalu saat ia melihatku balik, aku mengalihkan pandanganku melihat keluar kaca bis.

Apa yang ia lakukan? Duduk disebelahku saat ini. Padahal bangku yang kosong masih banyak. Apa dia ingin memberiku harapan kosong lagi? Aku mendengus.

Aku mematikan musik di ponselku tapi tetap memakai headphone di telingaku. Aku ingin tahu ia berbicara dengan siapa dan apa yang mereka bicarakan.

“Apa yang harus kuperbuat sekarang?” Tanyanya. Ada nada frustasi saat dia bicara. Lalu ia mendengarkan serius lalu tiba-tiba dia tersenyum-senyum sendiri. Aish pasti itu pacar barunya. Aku kembali menyalakan musik di ponselku dengan volume sekeras-kerasnya. Aku tidak mau mendengarnya berpacaran!
****

“Aish! Kenapa aku masih memikirkannya?!” Gerutu sambil menutup wajahku dengan bantal. Lalu terdengar ponselku berdering. Tanpa kulihat siapa yang menelfon, aku langsung menjawab. “Yoboseyo?” Tanyaku galak.

“H… Hye Mi, ini aku, Minho,” katanya tergagap.

Mau apa dia menelfonku? Tanyaku dalam hati. Apa dia tak tahu aku uring-uringan karenanya? “Oh,” sahutku malas. “Ada apa?” Tanyaku langsung.

Dia terdiam sesaat. “Apa kau sibuk?” Tanyanya takut-takut.

“Ani, ada apa?” Tanyaku lagi.

“Keluarlah.” Katanya.

Keluar? Dia diluar? Aku mengintip dari balik tirai dikamarku. Benar saja. Ia di ada diluar, menyandar pada dinding pagar di sebrang rumahku. Sebenarnya mau apa dia?

Aku memutuskan hubungan telfon. Lalu menghampirinya masih dengan celana pendek hitamku dan kaos lengan panjang. “Ada apa kemari?” Tanyaku langsung saja ketika aku sudah berada didepannya dengan melipat kedua tanganku didepan dada.

Ia tersenyum. Senyuman itu… “Ikut aku.” Ajaknya sambil menarik tanganku.

Aku tak sadar kalau aku mengikutinya. Setelah kesadaranku pulih, aku sedang berada di dalam kereta bawah tanah. Lalu aku melepaskan tangannya. “Hei, sebenarnya kau mau kemana?” Tanyaku ketus.

“Lihat saja nanti,” jawabnya tanpa melihatku.

Aish, apa yang mau ia lakukan padaku? Mana aku belum berganti pakaian. Akupun masih pakai celana pendek, padahal sekarang kan musim dingin. Aish orang bodoh!

Hari sudah gelap ketika kami keluar dari kereta bawah tanah. Lalu ia menggenggam tanganku ketika membawaku keluar dari kereta serta membimbingku ke… Sungai Han?

Ia duduk dibangku kayu di pinggiran sungai. Angin bertiup menggelitik, tidak, bukan menggelitik tapi menyerang tiap bagian tubuhku dengan hawa dingin yang amat dingin. Maka dari itu aku membenci musim dingin. Aku mempererat pelukan pada diriku sendiri.

“Ah, mian. Aku lupa ini musim dingin.” Ujarnya lalu memakaikan jaketnya membungkus tubuhku. Aku memutar bola mata.

Lalu kami saling diam. Hening. Cukup lama kami hanya diam. Aku menunduk dan ia, entah sedang apa dia.

“Aku beli kopi dulu.” Katanya setelah hening beberapa saat. Dan aku hanya mengangguk. Lalu ia pergi.

Ia kembali membawa 2 kopi hangat lalu menyodorkan padaku segelas. Setelah meminumnya, aku merasa lebih hangat walaupun tetap saja angin yang berhembus terasa sangat dingin.

Aku meminum kopiku dan melihat kedepan. Sedari tadi aku belum melihat ke sungai. Sekarang ku lihat lampu-lampu dari bebagai gedung di sebrang sungai sangat indah. “Wah, indah sekali melihat sungai Han dimalam hari,” gumamku terkagum-kagum. “Aku belum pernah kemari saat malam.” Kataku sambil menoleh ke Minho. Ia tersenyum. Aku menatapnya. “Nah, jadi apa yang mau kau bicarakan?” Tanyaku.

Ia menatapku, menunduk lalu menatapku lagi. Aku melihatnya sambil meminum kopiku. Aku ingin tertawa melihat reaksi wajahnya.

“Hye Mi, saranghae.” Aku tersentak kaget. Terbatuk kecil karena tersedak kopi.

“Apa?” Tanyaku.

Ia menghembuskan nafas. “Apa aku harus mengulangnya?” Ia balik bertanya. Aku hanya bisa menatapnya tanpa melakukan apapun sekarang. “Yoon Hye Mi, aku mencintaimu. Aku mencintaimu lebih dulu dibandingkan kau mencintaiku.” Lanjutnyanya sambil menatapku dengan tatapan yang serius.

Aku hanya bisa menatapnya shock dengan mata terbelalak dan mulut terbuka lebar (oke ini berlebihan). “Jadi… Jadi…” Aku tergagap. Aku tak bisa berkata apa-apa.

“Ne, maaf membuatmu menunggu lama.” Ia menunduk.

“Kenapa baru sekarang?” Tanyaku lagi. Tapi pertanyaanku lebih terdengar kalau aku bertanya pada diriku sendiri bahkan dengan telingaku sendiri.

“Aku belum siap. Aku takut kau menolakku.” Ujarnya.

Aku diam. Tak tahu harus berkata apa.

“Aku pengecut bukan?” Dia tertawa pahit.

Aku menatapnya, sedangkan ia tetap menunduk. “Bukankah kau tau aku juga menyukaimu?” Aku mengalihkan pembicaraan. Aku tak mau ia menyalahkan dirinya sendiri.

“Ne, ne. Aku tahu. Tapi aku belum siap. Jadi kuputuskan bilang sekarang saat Su Jie bilang kau sudah melupakanku.” Sahutnya.

“Su Jie?” Tanyaku bingung. Ia mengangguk.

Ah! Aku ingat. Ia pernah bertanya padaku apakah aku telah melupakan Minho atau belum. Aish orang ini. “Ani, tadinya aku ingin melupakanmu. Tapi tak bisa.” Aku berkata jujur sambil menunduk melihat sepatuku.

Hening lagi. Sekarang aku merasa canggung. Apa yang harus kulakukan agar tidak merasa canggung seperti ini?

“Hye Mi,” panggilnya.

Aku menoleh. “Ne?”

“Kau mau jadi kekasihku?”

Deg. Aku menatapnya. Ia juga sedang menatapku dengan matanya yang besar. Entah kenapa aku rindu akan perasaan ini.

“Hye Mi?” Tanyanya.

Aku menunduk. “Kukira kau sudah punya kekasih.” Aku teringat saat ia berbicara di telfon. Dia menatapku bingung. “Aku melihat saat kau menelfon seseorang di bis. Dan kulihat kau tersenyum-senyum sendiri saat berbicara dengannya.” Aku menunduk malu ketahuan mengupinnya.

Aku mengangkat kepala saat ia tertawa keras sekali. Aku menatapnya bingung. “Itu karena Su Jie bilang kalau aku adalah cinta pertamamu. Aku sangat senang mendengar itu. Ha, ha,”

Su Jie bilang begitu? Aku merasakan wajahku memanas.

“Jadi… maukah kau menjadi kekasihku?” Tanyanya. “Menjadi cinta pertama dan terakhirku?” Lanjutnya.

Aku tersenyum malu mendengar pertanyaannya. Rasanya aku ingin teriak sekencang-kencangnya. Lalu melihatnya diam menunggu jawabanku, aku mengangguk. “Ne, aku mau jadi kekasihmu.” Aku sangat menginginkannya, tambahku dalam hati.

Senyumnya melebar. “Benarkah?” Tanyanya. Sebelum aku menjawab, ia langsung memelukku. “Aku suka kau kembali lagi, Hye Mi.” Bisiknya.

Salju pertama dimusim dingin tahun ini turun. Mulai sekarang, aku tidak membenci musim dingin lagi. Aku akan menanti musim dingin lagi asalkan dia terus berada disampingku.

END.

7 thoughts on “Winter’s Love (part 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s